{"id":541,"date":"2008-12-10T15:56:56","date_gmt":"2008-12-10T08:56:56","guid":{"rendered":"http:\/\/www.hedwigus.com\/?p=541"},"modified":"2008-12-10T15:56:56","modified_gmt":"2008-12-10T08:56:56","slug":"naik-kereta-api-bogor-sukabumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/2008\/12\/10\/naik-kereta-api-bogor-sukabumi\/","title":{"rendered":"Naik Kereta Api: Bogor &#8211; Sukabumi"},"content":{"rendered":"<p><a href=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_01.jpg\\\"><img class=\\\"alignleft size-thumbnail wp-image-542\\\" style=\\\"border: 1px solid black;\\\" title=\\\"Bhumi Pasundan\\\" src=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_01-150x150.jpg\\\" alt=\\\"\\\" width=\\\"200\\\" height=\\\"200\\\" \/><\/a>Pada bulan Maret 2006, jalur kereta api yang menghubungkan antara Stasion Bogor dan Stasion Sukabumi dihentikan beroperasi karena prasarana pendukung yang terdegradasi dan jumlah pemasukan yang sangat jauh dibawah nilai ekonomis alias merugi.<\/p>\n<p>Minggu lalu, tepatnya tanggal 3 Desember 2008, saya berkesempatan menikmati ujicoba jalur kereta api Bogor &#8211; Sukabumi dengan menggunakan rangkaian KRD (Kereta Rel Diesel) bersama jajarang PT.Keretapi (Persero).<\/p>\n<p>Bagi saya, jalur kereta api Bogor &#8211; Sukabumi sepanjang lebih kurang 57 kilometer ini, merupakan salah satu jalur favorit karena disepanjang jalur ini saya dapat menikmati pemandangan yang indah. Terakhir saya menikmati jalur ini adalah pada tahun 1997 yang lalu.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p><strong>The Journey<\/strong><\/p>\n<p>Pagi itu saya menyempatkan diri ke Stasion Manggarai, karena KRD Sukabumi akan stabling di sana setelah keluar dari Dipo Tanah Abang. Dari Manggarai, KRD berjalan ke arah Gambir untuk menjemput beberapa pejabat PT. Keretapi (Persero) yang hari itu akan meninjau kesiapan dibukanya kembali jalur ini.<br \/>\nMendapat status Kereta Luar Biasa (KLB), KRD Sukabumi mendapat prioritas utama saat menempuh perjalanan dari Stasion Gambir ke Stasion Bogor. Rangkaian berjalan dengan kecepatan tinggi dan sama sekali tidak mendapat halangan di tengah perjalanan di jalur yang bersejarah ini.<\/p>\n<blockquote><p><strong>Jalur Bersejarah<\/strong>,<br \/>\nDi masa lalu, jalur kereta api utama (main lane) di Jawa adalah melalui jalur ini sebelum jalur pantura antara Manggarai sampai dengan Cirebon dibuat.<\/p><\/blockquote>\n<p>Perjalanan dari Bogor ke Sukabumi adalah yang paling saya nantikan, menurut Masinis kereta api yang bertugas, KLB KRD akan berjalan dengan Taspat ( Batas Kecepatan) rata-rata 40 km\/jam. Wah seru sekali, karena perjalanan akan memakan waktu yang lama, dan akan cukup banyak waktu untuk menikmati pemandangan selama perjalanan.<\/p>\n<p>Selepas Stasion Bogor, rangkaian sudah langsung berhadapan dengan jalur yang menanjak. Suara mesin KRD menderu-deru di jalur ini diselingi suara semboyan 35 (klakson) agar orang waspada akan kereta yang lewat.<br \/>\nLebih dari 2 tahun setelah jalur ini ditutup, orang di sekitar jalur kembali dapat melihat kereta yang lewat. Banyak orang menyambut gembira saat rangkaian lewat. Beberapa pengendara sepeda motor yang melintas sempat dikagetkan saat tiba-tiba melihat ada rangkaian kereta api yang lewat. Jika selama ini mereka dapat melintas perlintasan tanpa khawatir, sekarang mereka harus berhati-hati jika tidak ingin dicium oleh kereta api.<\/p>\n<p style=\\\"text-align: center;\\\"><a href=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_022.jpg\\\"><img class=\\\"aligncenter size-medium wp-image-547\\\" title=\\\"Sinyal lengan mekanik\\\" src=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_022-300x225.jpg\\\" alt=\\\"\\\" width=\\\"300\\\" height=\\\"225\\\" \/><\/a><\/p>\n<p>Salah satu yang menarik dari jalur ini selain track yang naik turun seperti tangga, sinyal-sinyal mekanik masih menemani perjalanan. Sebagai jalur yang sepi, sinyal mekanik sudah lebih dari cukup untuk melayani perjalanan dengan aman.<br \/>\nBagi saya, sinyal mekanik dan pemandangan yang indah memberikan kesenangan tersendiri yang sudah jarang ditemui.<\/p>\n<p>KLB KRD berhenti di beberapa Stasion yang dilewati, Para petugas di Stasion yang tetap bekerja walau sebelumnya jalur sempat ditutup, tampak gembira, sepertinya penantian mereka menjaga dan merawat stasion tidaklah sia-sia.<br \/>\nDi beberapa stasion memang telah beralih fungsi. Ada yang jadi gudang ada yang jadi warung makan. Tetapi saat kontrak karya selesai nanti, stasion-stasion itu kan beroperasi penuh melayani kereta api dan penumpang.<\/p>\n<p>Perjalanan dari Bogor sampai Sukabumi ditempuh selama lebih kurang 2 jam 40 menit. Cuaca cerah yang bersahabat selama perjalanan memungkinkan saya untuk memotret sebanyak-banyaknya. Gunung Salak dan Gunung Gede tampak megah di sisi kanan dan kiri jalur ini.<br \/>\nWaktu 2 jam, mungkin bukan waktu perjalanan yang ideal karena lebih lama dari angkutan jalan raya seperti bus dan angkot, tetapi kereta api dengan muatan penumpang dan barang yang besar serta tarifnya yang murah, mungkin akan menjadi kendaraan primadona bagi para pengjalu dari Sukabumi dan sekitarnya.<\/p>\n<p style=\\\"text-align: center;\\\"><a href=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_03.jpg\\\"><img class=\\\"aligncenter size-medium wp-image-548\\\" title=\\\"Sukabumi Railroad Station\\\" src=\\\"http:\/\/www.hedwigus.com\/wp-content\/uploads\/2008\/12\/sukabumi_hed_03-300x225.jpg\\\" alt=\\\"\\\" width=\\\"300\\\" height=\\\"225\\\" \/><\/a><\/p>\n<p>Di Stasion Sukabumi, saya sempat menikmati makan siang sebelum kembali ke Jakarta. Perjalanan balik diselingi dengan hujan, beberapa rekan tertidur menikmati goyangan kereta api. KLB KRD juga berjalan langsung tanpa berhenti di stasion-stasion yang dilewati.<br \/>\nJam 3 Sore, KLB tiba di Stasion Bogor, Saya kemudian turun di sini untuk berganti dengan KRL Ekonomi untuk meneruskan ke Depok, karena KLB dipastikan tidak dapat BLB (Berhenti Luar Biasa) di Stasion Depok.<\/p>\n<p>Satu lagi jalur kereta api bersejarah telah dibuka kembali. Dan saya sangat berharap jalur Sukabumi &#8211; Cianjur &#8211; Padalarang &#8211; Bandung akan mengikuti jejak Bogor &#8211; Sukabumi.<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<\/p>\n<p>Rencana harga karcis Sukabumi &#8211; Bogor adalah Rp. 8000,-<\/p>\n<p>Nama Stasion yang dilewati saat itu mulai dari Gambir sampai dengan Sukabumi:<\/p>\n<p><strong>Gambir<br \/>\n<\/strong>Gondangdia<br \/>\nCikini<br \/>\nPegangsaan (punah)<br \/>\nManggarai<br \/>\nTebet<br \/>\nCawang<br \/>\nDuren Kalibata<br \/>\nPasar Minggu Baru<br \/>\nPasar Minggu<br \/>\nTanjung Barat<br \/>\nLenteng Agung<br \/>\nUniversitas Pancasila<br \/>\nUniversitas Indonesia<br \/>\nPondok Cina<br \/>\nDepok Baru<br \/>\nDepok<br \/>\nPondok Terong (punah)<br \/>\nCitayam<br \/>\nBojong Gedeh<br \/>\nCilebut<br \/>\nKebon Pedes (punah)<br \/>\n<strong>Bogor<br \/>\n<\/strong>Batutulis<br \/>\nCiomas<br \/>\nMaseng<br \/>\nCigombong<br \/>\nCicurug<br \/>\nCijambe<br \/>\nParung Kuda<br \/>\nCibadak<br \/>\nKarang Tengah<br \/>\nPondok Leungsir<br \/>\nCisaat<br \/>\n<strong>Sukabumi<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada bulan Maret 2006, jalur kereta api yang menghubungkan antara Stasion Bogor dan Stasion Sukabumi dihentikan beroperasi karena prasarana pendukung yang terdegradasi dan jumlah pemasukan yang sangat jauh dibawah nilai ekonomis alias merugi. Minggu lalu, tepatnya tanggal 3 Desember 2008, saya berkesempatan menikmati ujicoba jalur kereta api Bogor &#8211; Sukabumi dengan menggunakan rangkaian KRD (Kereta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-541","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","travel-monster-post","no-post-thumbnail","latest_post"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=541"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/541\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}