{"id":231,"date":"2008-02-27T13:18:38","date_gmt":"2008-02-27T06:18:38","guid":{"rendered":"http:\/\/www.hedwigus.com\/?p=231"},"modified":"2024-01-15T10:47:39","modified_gmt":"2024-01-15T10:47:39","slug":"nasi-gudeg-pajajaran-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/2008\/02\/27\/nasi-gudeg-pajajaran-bandung\/","title":{"rendered":"Nasi Gudeg Pajajaran Bandung"},"content":{"rendered":"<p>Hampir setiap pergi ke Bandung, saya menyempatkan diri untuk datang ke GOR Pajajaran di Jalan Pajajaran untuk berwisata kuliner.<br \/>\nDi komplek GOR Pajajaran ini setiap hari dipenuhi oleh warga Bandung yang hendak berolah raga, sementara saya ke sini di pagi hari adalah untuk menikmati berbagai macam makanan yang tersedia di sana. Salah satunya Nasi Gudeg GOR Pajajaran.<\/p>\n<p><a title=\\\"Gudeg Pajajaran by hedwigus, on Flickr\\\" href=\\\"http:\/\/www.flickr.com\/photos\/44946504@N00\/2295614868\/\\\"><\/a><\/p>\n<p style=\\\"text-align: center\\\"><a title=\\\"Gudeg Pajajaran by hedwigus, on Flickr\\\" href=\\\"http:\/\/www.flickr.com\/photos\/44946504@N00\/2295614868\/\\\"><img src=\\\"http:\/\/farm4.static.flickr.com\/3202\/2295614868_02bdb77030.jpg\\\" border=\\\"0\\\" alt=\\\"Gudeg Pajajaran\\\" width=\\\"300\\\" height=\\\"240\\\" \/><\/a><\/p>\n<p><!--more-->Makanan yang disediakan di dalam gentong tanah liat ini adalah makanan asal Jogja, yang begitu tiba di Bandung telah mengalami sedikit evolusi, karena harus disesuaikan dengan lidah orang sunda. Jika aslinya gudeg terasa manis, di Bandung, gudek disajikan dengan rasa yang tidak terlalu manis dan cenderung lebih gurih.<\/p>\n<p>Sebenarnya banyak menu makanan yang tersedia di lokasi ini, mulai dari otak-otak hingga somay, mulai dari bubur ayam hingga nasi goreng komplit.<br \/>\nMenu favorit ku di GOR Pajajaran adalah mie ayam dan bubur ayam. Tetapi, gudek akan selalu menjadi tujuan selama berada di kompleks GOR.<\/p>\n<p><strong>Mengapa harus gudek ?<\/strong><\/p>\n<p>Lokasi jualan gudek agak menyudut di sisi kanan GOR Pajajaran dan tidak terlalu ramai orang.<br \/>\nSepi!, tidak juga, kebanyakan orang membeli gudek ini untuk dibawa pulang  dan sedikit yang menyantap di TKP.<br \/>\nSelain itu, alasan utama saya selalu berlabuh di gerobak gudek ini, karena tidak lain mertuaku sendiri yang menjajakannya. Jadi daripada bersusah payah mencari tempat di lapak makanan lainnya, lebih baik nangkring di tempat sendiri, kemudian tinggal nyuruh pegawai mertua untuk memesan makanan di tempat lain.<\/p>\n<p>Kedua mertuaku memulai usaha ini sejak awal tahun 90an, padahal saat itu saya berdomisili di Bandung dan cukup sering ke GOR Pajajaran. Tetapi baru ngerti setelah pacaran sama anaknya di akhir 90an.<\/p>\n<p>Sekarang setiap berlibur ke Bandung, ritual sarapan di GOR Pajajaran masih selalu dilakukan. Kedua anakku mendapatkan pengalaman yang baru dan menyenangkan, saat ikut melayani pembeli dengan menyiapkan gudek atau ikutan mencuci piring di area cuci piring. Mereka bahkan mereka suka meracikan makanan yang akan saya santap, dan kadang kala malah kebanjiran kecap manis.<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br \/>\n<small>GOR: Gelanggang Olah Raga<br \/>\n<em>Himbauan: Rekan-rekan moslem, sebaiknya berhati-hati saat berwisata kuliner di GOR Pajajaran, karena ada satu dua pedagang yang menjajakan makanan yang mengandung babi. Sebaiknya bertanya terlebih dahulu, karena masih banyak makanan enak yang tersedia di sana. <\/em><\/small><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hampir setiap pergi ke Bandung, saya menyempatkan diri untuk datang ke GOR Pajajaran di Jalan Pajajaran untuk berwisata kuliner. Di komplek GOR Pajajaran ini setiap hari dipenuhi oleh warga Bandung yang hendak berolah raga, sementara saya ke sini di pagi hari adalah untuk menikmati berbagai macam makanan yang tersedia di sana. Salah satunya Nasi Gudeg [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4],"tags":[122,120,125,126,124,123,121],"class_list":["post-231","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-wisata","tag-bandung","tag-gor","tag-jogging","tag-kuliner","tag-lari-pagi","tag-olah-raga","tag-pajajaran","travel-monster-post","no-post-thumbnail","latest_post"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1944,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/231\/revisions\/1944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.hedwigus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}