Me Family, Stories and Activities
Posts tagged KRL
System Informasi ala kereta api
Aug 10th
Hampir setiap hari, saya menggunakan jasa angkutan masal kereta api yang membawa saya dari Depok ke hiruk pikuknya kota Jakarta. Stasion Depok selalu menjadi tempat awal saya menghabiskan hari-hari di Jakarta.
Tidak dapat dipungkiri lagi, Kereta api dalam hal ini Kereta Listrik (KRL) adalah moda transportasi yang paling ideal bagi seorang komuter seperti saya. Perjalanan Depok sampai Gambir dapat ditempuh kurang dari 1 Jam saja, bahkan pada waktu-waktu tertentu hanya membutuhkan waktu 30 menit saja sudah tiba ditengah-tengah Ibukota Jakarta.
Kebetulan saya adalah pengguna Kereta Listrik Express AC atau biasa disebut Depok Express dan memiliki nama panggilan yang cukup keren, DEPEX!.

KRL Eko AC
Gambar diperoleh dari www.semboyan35.com
PT. KA Jabotabek
Aug 14th
Divisi Jabotabek memang sebuah divisi yang memiliki jumlah pendapatan tertinggi di jajaran PT. Kereta Api (Persero).
Terang saja, data menyebutkan bahwa setiap hari KRL-KRL yang berseliweran di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Serpong telah mengangkut penumpang lebih dari 500.000 orang. Sebuah pasar yang sangat menarik tentu saja bagi sebuah bisnis angkutan darat.
Tanggal 13 Agustus 2008, PT. Kereta Api (Persero) melakukan spin-off terhadap divisi Jabotabek, menjadi sebuah perseroan tersendiri. Direktur PT. KA (Persero), Ronny Wahyudi sendiri yang melantik Komisaris Utama dan Jajaran Direksi PT. KA Jabotabek.
Perseroan baru ini masih akan mendapatkan dukungan sebagai masa transisi sampai dengan awal tahun 2009 mendatang. Setelah itu, PT. KA Jabotabek telah menargetkan untuk dapat mengangkut penumpang komuter di Jabodetabek sampai dengan 1.2 Juta orang per hari. Selain itu ada tugas berat lain yang harus dapat diselesaikan, yaitu penumpang gelap dan gocengers… (bayar 5000 naik Pakuan/Depex/Sudex dan Bekex).
Tidak lama setelah diresmikan, PT. KA Jabotabek bahkan langsung mendapat dua peluang partnership, yaitu PT. Pembangunan Jaya dan Pemda DKI. Kedua instansi tersebut sangat tertarik dengan bisnis moda transportasi masal ini. Sementara itu, Pemda DKI lebih tertarik dengan usaha-usaha untuk melakukan integrasi antara KRL dan Busway.
Jajaran petinggi PT. KA Jabotabek.
Komisaris Utama: Farid Haryanto
Komisaris: Nugroho Indrio
Komisaris: Mesra Erza
Komisaris: Soedarmo
Direktur Utama: Kusnadi Atmosasmito
Direktur Operasi dan SDM: Ahmad Marzuki
Direktur Teknik: Subagijo
Direktur Keuangan: Ignatius Tri Handoyo
(kurang ajarnya) Penjaga Loket
Aug 16th
Hampir setiap pulang dari kantor, gua banyak mengalami hal-hal yang aneh menyebalkan. Setelah gua mengalami pengalaman yang buruk lucu di busway koridor III, kali ini gua harus menghadapi penjaga loket Depok Express di station kota yang sangat-sangat menyebalkan sampek pengen rasanya bogem gua masukin ke mulut bawelnya.
“Mas, uang kecil aja” ucap penjaga loket sambil sedikit membentak.
Gua memang kebetulan ngasih uang 50 ribuan yang rada lecek, karena gua kantongin di celana selama 2 hari (ketahuan celana 2 hari gak ganti deh)
“Maaf mas, uang saya tinggal satu-satunya ini, gak ada lagi” gua jawab
Memang hari itu uang yang menempel di tubuh gua ya tinggal 50 ribu perak.
“Gak ada kembalinya” Dia menghardik gua, sambil mendorong kembali uang 50ribuan lecek gua keluar loket.
Gua langsung naik pitam !!! railfans diginiin !!!
“Nyet…. !!! itu depan moncong lu ada 10 ribuan dan 20 ribuan setumpuk, loe bilang gak ada kembalian!!” Gua marah-marah.
Sambil merengut kayak banci kurang setoran akhirnya dia ngasih tiket ke gua dengan kembalian 41 ribu rupiah saja.
Reflek gua keluarin handphone yang pernah blank dan c’prett!! gua potrek si pegawai honorer nan blagu luar biasa itu. Dia sewot dan marah-marah dari balik kandangnya persis seperti monyet di ragunan.
![]()
Gua langsung jalan naik Depex jam 18:00 yang baru berangkat jam 19:00 yang penuh sesak persis KRL Ekonomi.
Penumpang Gelap
Aug 13th
Seperti biasa, setiap sore pulang dari kantor ke rumah menggunakan KRL Depok Express.
Sore tadi, gua sempat naik KRL Depok Express yang berangkat dari Station Jakarta Kota jam 17:20. Karena rangkaian masih belum penuh, gua memilih jalan ke depan dan kemudian naik dan duduk di gerbong satu.
Tepat waktu, KRL Depex berjalan meninggalkan Station Jakarta Kota (atau ada orang yang menyebut Station Beos).
Kira-kira 5 menit setelah itu, rangkaian tiba di Station Juanda. KRL memang berhenti normal di station ini untuk menaikan penumpang.
Begitu pintu terbuka, berhamburanlah puluhan orang masuk untuk memperebutkan kursi kosong yang tersisa. Gerbong satu langsung penuh seketika, ada yang duduk, berdiri, duduk di dingklik (kursi lipat kecil) dan ada juga yang lesehan beralaskan koran.
Sampai di Station Gambir, kembali kejadian yang sama terjadi. Gerbong yang mulai penuh kembali diisi orang-orang yang akan kembali pulang setelah seharian beraktivitas di Jakarta.
Di Station Gondandia setelah kira-kira 15 menit rangkaian meluncur dari Station Jakarta Kota, kembali Rangkain Depex berhenti untuk menaikan penumpang. Kejadian terulang kembali, setelah pintu terbuka, puluhan orang kembali merangsek masuk ke dalam rangkaian, KRL Depex Gerbong Satu langsung penuh sesak.
Tiba-tiba dari arah depan (dekat ruang masinis) ada sedikit kegaduhan, dan diikuti dengan orang-orang yang berhamburan keluar dari kereta api.
“ada apa nih mas, koq orang pada keluar, ada copet ya ??” seorang ibu di sebelah gua bertanya.
“Aduh!! jangan-jangan ada kebakaran ya !!” lagi seorang ibu tampak cemas, sambil siap-siap lompat keluar.
Sekilas gua melihat ada petugas PS (Polisi Sepur … gua juga belum tahu arti sebenernya sih) yang keluar dari kabin masinis.
“tenang saja ibu, orang pada kabur bukan karena copet atau kebakaran. tapi ada petugas PS, tuh lihat aja ada 5 orang” gua bicara kepada kedua ibu tersebut.
“ow. pantesan pada kabur!” mereka berdua sambil tersenyum.
Para penumpang di gerbong satu sangat senang dengan kejadian lucu tersebut, karena sebagian orang yang ternyata tidak memiliki karcis express alias penumpang gelap, berebutan turun lantaran takut didenda Rp.30,000,- oleh para petugas itu.
Rangkaianpun menjadi lowong dengan hanya 6-7 orang yang berdiri, setelah sebelumnya penuh sesak.
Rangkaian KRL Depex Gerbong Satu memang adalah tempat andalan bagi para penumpang gelap tanpa karcis express. Di sini mereka merdeka, karena sang kondektur dapat dibungkam dengan mudah hanya dengan memberi uang 3000an saja (ya!! bukan 5000an alias goncengers, tapi cukup 3000 rupiah saja). Bahkan beberapa orang lebih berani lagi dengan pura-pura memiliki KTB (Kartu Tanda Berlangganan) alias Abudemen.
Memang tingkat rasa memiliki para penumpang memang tinggi, sampai naik kereta api pun maunya gratisan. Awak kereta api juga masih memiliki dedikasi yang rendah dengan mencari uang tambahan melalui cara yang salah. Ujungnya pelayanan tidak akan dapat diberikan secara maksimal, karena kedua belah pihak lebih menginginkan kondisi saat ini dapat berlangsung selamanya
