1

Situs Megalitikum Gunung Padang

Terus terang, nama tempat ini adalah sebuah nama yang baru saya dengar selama hidup. Sebelumnya tidak pernah mendengar apapun cerita tentang daerah ini.
Dari hasil Googling, didapat beragam cerita tentang tempat ini, membuat saya tertarik untuk melihat sendiri sebuah lokasi yang dikhabarkan menyimpan misteri sejarah yang sangat berharga ini.
Tentu saja, expedisi saya bukan untuk melakukan penelitian (karena memang bukan jagonya) tetapi hanya untuk menikmati sunrise diatas gunung.

 

Situs Megalitikum Gunung Padang

Situs Megalitikum Gunung Padang

Gunung Padang

Lokasi terletak di Kabupaten Cianjur diantara Cianjur dan Sukabumi. Sebuah daerah pegunungan khas daerah Parahyangan yang terkenal dengan suasana yang hijau dan sejuk. Dari Jakarta sebenarnya dapat dijangkau dengan mudah, karena kendaraan bermotor dapat sampai kelokasi ini dengan mudah.

Perjalanan dari Depok ke Gunung Padang, dilalui dengan melalui rute melewati Ciawi, Puncak Pass, Cipanas dan sampai ke Cianjur. Perjalanan dilanjutkan kearah Sukabumi dan sampai ditemui pertigaan menuju lokasi situs berada disebelah kiri jalan.
Jalan menuju lokasi bukan merupakan jalan aspal berhotmix mulus, tetapi hanya jalan desa dengan yang dipenuhi banyak lubang. Perjalanan sekitar 10km terasa lama, karena kendaraan tidak dapat dipacu maksimal, kecuali anda membawa kendaraan off-road.

Kali ini, perjalanan saya ditemani oleh para tetangga di tempat saya tinggal, kami jalan berempat dengan menumpang sebuah SUV standart.
Niat kami?adalah untuk melihat sunrise di Situs Megalitikum Gunung Padang. Untuk itu, kami memutuskan berangkat sore hari dari Depok agar dapat bermalam sambil menunggu pagi menjelang.
Suasana hujan deras, menemani perjalanan selama melintas Kawasan Puncak sampai dengan Cipanas kemudian?kabut menghadang saat mendekati lokasi situs, tepatnya ditengah-tengah perkebunan teh.
Di Gunung Padang ada rumah warga yang dapat disewa sebagai shelter untuk menginap. Hargannya cukup masuk akal yaitu Rp. 50.000,- per kepala per malam. Lumayan disediakan matras, bantal dan selimut (bau) untuk menemani malam.

Kami berangkat ke puncak gunung (sebenarnya ini hanya bukit saja tidak setinggi gunung) pada pukul 05:00, Retribusi sebesar Rp 2000,- dapat dibeli sebelum mulai pendakian.

Lokasi awal pendakian.

Lokasi awal pendakian.

Sebenarnya perjalanan menuju puncak tidak terlalu jauh, tetapi kami butuh waktu 20 menit lebih untuk dapat mendaki tangga sampai keatasnya padahal kami menggunakan jalur alternatif, bukan jalur pendakian aslinya yang cukup terjal antara 40-70 derajat kemiringannya.

Lokasi situs merupakan sebuah punden berundak yang berisi batu-batu yang berserakan.
Ada yang mengatakan bahwa lokasi ini terjadi adalah karena proses alami biasa, tetapi banyak juga yang memilik pendapat?bahwa campur tangan manusia terlihat jelas ditempat ini, artinya situs itu dibangun oleh sebuah masyarakat dimasa silam.
Saya bukan ahli arkeologi yang dapat menjelaskan semuanya, menikmati sunrise dipuncakanya sudah merupakan kenikmatan tersendiri.

Punden Berundak

Punden Berundak

Sebagai orang awam, saya banyak melihat batu-batu berbentuk batang (columnar). Beberapa batu bahkan dapat mengeluarkan bunyi saat dipukul (sebenarnya dilarang keras untuk memukul-mukul batu disana) dan disebut dengan batu gamelan, sementara batu-batu lainnya hanya seperti batu kebanyakan.

Berikut ini beberapa gambar dari lokasi Megalitikum terbesar di Indonesia ini.

Batu dengan tanda jejak harimau (maung)

Batu dengan tanda jejak harimau (maung)

Batu dengan corak berbentuk kujang (belati khas sunda)

Batu dengan corak berbentuk kujang (belati khas sunda)

Teras pertama dilihat dari teras kedua

Teras pertama dilihat dari teras kedua

Teras Kedua sampai Teras Kelima

Teras Kedua sampai Teras Kelima

Ruangan terbuka dengan hanya sedikit pepohonan

Ruangan terbuka dengan hanya sedikit pepohonan

Perjalanan menggunakan kereta api

Selain kendaraan pribadi, dari Jakarta kita dapat menggunakan angkutan kereta api dengan route Jakarta – Bogor dengan KRL CommuterLine, kemudian sambung dengan rangkaian KA Pangrango dari Bogor (Paledang) – Sukabumi, kemudian sambung dengan rangkaian KA Siliwangi dari Sukabumi – Lampegan.
Dari Stasiun Lampegan, perjalanan dapat ditempuh ke Gunung Padang dengan menyewa jasa ojek. Ongkos yang diminta adalah Rp 50.000 sekali jalan. Jika cukup kuat untuk menawar, maka ongkos ojek dapat ditekan sampai dengan Rp. 30.000 untuk sekali jalan.

Yang perlu diperhatikan jika ingin menggunakan transportasi kereta api. Jadual kedatangan dan pemberangkatan di Stasiun Lampegan cukup ketat. Kereta dari Sukabumi tiba pukul 11:00 dan akan kembali ke Sukabumi pada pukul 13:00. Waktu ke Gunung Padang hanya terbatas 2 jam termasuk perjalanan dari dan ke stasiun.

Catatan

Pengawasan di Gunung Padang sebenarnya sudah cukup ramai, tetapi kurang ketat. Dilokasi banyak ditemui para pengunjung yang naik keatas menhir dan bepotensi merusak selain itu memukul-mukul batu yang juga berpotensi merusaknya.
Di pintu masuk terpampang jelas larangan untuk berjualan didalam lokasi situs, tetapi terlihat para pedagang makanan leluasa masuk kelokasi.

Pedagang Makanan

Pedagang Makanan

Hedwigus