Memilih tempat tinggal memang memerlukan sebuah pemikiran yang panjang, tenang dan hati-hati.

Di tempat gua tinggal sekarang, walau masih menyisakan sedikit masalah dengan banyak persoalan dengan pihak pengembang tetapi suasananya cukup nyaman, selain karena sebagian besar dari penghuninya memiliki usia yang rata-rata sama, para penghuni ternyata banyak memiliki kesamaan minat dan bakat seperti misalnya doyan karaoke, doyan sepedaan sama doyan nongkrong di pos security yang jumlahnya ada 5 di seluruh komplek.

Nongkrong di pos security buat gua kadang memberikan sebuah suasana tersendiri yang cukup unik. Dengan bermodalkan kopi sachetan yang bisa dibeli di warung, para security yang bertugas dapat segera membantu menyeduh dan secangkir kopi panas siap sedia.

Pos security tempat biasa gua tongrongkin, memang cukup nyaman karena berada di sudut dari sebuah taman yang dilengkapi dengan lapangan bola voli. Jika malam hari, udara cukup sejuk, tetapi saat siang hari panasnya bukan kepalang, karena pepohonannya belum mampu melindungi dari panasnya matahari.

Sambil minum kopi dan kadang menghisap rokok, gua kadang suka mendengar dan kadang larut dalam obrolan-obrolan yang terjadi.
Sampai suatu hari gua mendengara obrolan yang cukup menarik, bukan tentang pilkada, bukan tentang gaji security, bukan obrolan sepak bola, tetapi sebuah informasi yang cukup seru, yaitu tentang hubungan para security dan pembantu.

Seru, tentu saja seru. Sepanjang week-days khususnya saat jam kerja, tempat tinggal gua pasti langsung sepi, karena kebanyakan para penghuni sudah bergerak ke tempat kerjanya. Beberapa kadang harus segera berangkat setelah menyelesaikan sholat shubuhnya, dan ada yang harus kembali pulang ke rumah setelah tengah malam.
Singkatnya setiap week-days, komplek pasti sepi.

Sementara para penghuni pergi beraktivitas, di rumah, tinggalah anak-anak bersama pembantu dan baby sitter.

Suatu hari, karena gua rada malas ke kantor dan mending kerja di rumah, gua menyaksikan para pembantu menyuapi anak-anak majikannya sambil jalan-jalan sekitar rumah atau bahkan sampai ke lapangan voli dekat rumah gua.

Sebuah pemandangan yang menurut gua menarik, saat para pembantu mulai ngobrol dengan para security. Bahkan diantara mereka ada yang cara ngobrolnya cukup serius tingkat kemesraannya.

Kembali ke nongkrong di pos security. Di dalam obrolan yang gua dengar di antara mereka, ternyata memang ada hubungan yang serius antara beberapa security dan beberapa orang pembantu. Bahkan ada diantara mereka yang akan segera melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Tetapi ada pula kejadian dimana ada seorang pembantu yang dibawa kabur oleh seorang security, padahal sang security sudah memiliki istri dan anak.
Atau kejadian yang lebih memalukan, seperti seorang pembantu yang kedapatan dihamili oleh seorang security.

Dalam hal ini kadang kita tidak dapat menyalahkan mereka secara semena-mena. Hanya dengan pikiran yang jernihlah, masalah ini dapat diselesaikan dan dapat dihindari di masa yang akan datang.

Masalah satpam dan pembantu, adalah sebuah masalah yang sering terjadi di pemukiman-pemukiman yang tumbuh menjamur saat ini.
Kedua pekerja ini memang sangat dibutuhkan, khususnya buat gua. Saat gua asik bekerja di Jakarta, anak-anak gua dapat perlindungan dari para security dan diasuh oleh pembantu.
Kadang kala mereka cukup merepotkan, tetapi selalu dibutuhkan.

Cara gua untuk mencegah terjadinya hubungan yang tidak sehat antara security dan pembantu adalah dengan nongkrong kongkow di pos satpam. Dengan mendengar dan mengenal mereka dengan lebih baik (kadang gua juga membelikan rokok, nasi goreng dll dll), gua mencoba membuat sebuah hubungan yang sehat sehingga para security tidak enggan untuk berbuat kurang ajar ke gua.
Gua enggak tahu, apakah cara gua ini benar, tetapi yang jelas, sampai saat ini belum ada security yang bertindak kelewat batas kepada para pembantu di rumah gua.

Bahkan mereka cukup melindungi rumah gua.

———————–

gambar punyanya Microsoft