Naik Kereta Api.. tut..tut.. siapa hendak turut..

Lagu anak-anak yang dahulu mengajak orang untuk naik kereta api, akhirnya menjadi sebuah kenyataan.

Dengan naiknya harga BBM lebih dari 25% pertengahan 2008 ternyata kembali menjadikan Kereta Api sebuah moda transportasi darat primadona.

Komuter

Hampir setiap hari, jika harus ke Jakarta untuk mengerjakan project-project, kereta listrik (KRL) menjadi angkutan yang handal. Cukup dengan membayar karcis KRL Express sebesar 9000 Rupiah dari stasion Depok, sudah dapat menjangkau ke tengah-tengah kota di kawasan Sudirman, Jakarta hanya dalam waktu 40 Menit saja.
Jika dalam satu gerbong dapat memuat sampai 80 orang, dan dalam 1 rangkaian terdapat 6 gerbong, maka sekali jalan, KRL AC ini dapat membawa tidak kurang dari 480 orang, dan tidak terpaku dengan kemacetan lalu lintas dan gangguan sepeda motor.

Dulu, saat masih doyan nyetir mobil ke kantor, diperlukan waktu setidaknya 80 menit untuk berangkat sampai ke kantor dengan menghadapi kemacetan mulai dari Margonda, Lenteng Agung, Tanjung Barat dan jalur neraka di lintas Warung Buncit sampai dengan Mampang, dengan rata-rata menghabiskan bensin bersubsidi premium sebanyak 7,4 Liter sehari atau setara dengan 44.444 Rupiah, sedangkan dengan KRL AC biaya yang harus ditanggung adalah:

  • 18.000 (KRL AC P-P)
  • 7.000 (Busway P-P)
  • 5.000 (Parkir Mobil di tasiyun)
  • 3.000 (Rata-rata pemakaian bensin bersubsidi premium).

Total biaya adalah : 33.000 Rupiah alias lebih irit 11.444 Rupiah ditambah olah raga jalan kaki.

Kereta Jarak Jauh

Angkutan kereta api jarak jauh saat ini ternyata juga kembali menjadi primadona, sejak harga BBM di pasar internasional melambung diatas 100 USD per barrel, akhirnya membuat harga tiket pesawat terbang ikut-ikut melambung.
Hasilnya adalah para penumpang berbagai tujuan di Pulau Jawa, mulai beralih kembali menggunakan kereta api yang tarif ticketnya tetap tidak berubah.
Jika dahulu kereta api hanya penuh di akhir pekan, saat ini kadang orang sudah kehabisan ticket di hari biasa.
Saya sendiri pernah go-show ke Gambir untuk membeli ticket kereta api ke Yogyakarta, kenyataannya ticket kereta api jalur Selatan yang melewati Jogja sudah terjual habis dan akhirnya malah naik KRL AC, pulang ke Depok.

Jarak Pendek Potensial

Kenaikan harga tiket moda transportasi pesaing ternyata bukan satu-satunya yang membuat angkutan darat masal ini kembali menjadi primadona.
Kereta Api Parahyangan dan Argo Gede yang mulai ditinggalkan penumpangnya sejak dibukanya jalan tol Cipularang, kali ini dapat kembali bernapas lega karena mulai disesaki oleh penumpang Jakarta – Bandung.

Parahyangan dan Argo Gede ternyata telah melakukan restruktur harga ticket mengikuti pola low fare nya airlines.
Saat ini penumpang tujuan Jakarta dan Bandung hanya merogoh kantongnya sebesar 20.000 Rupiah untuk kelas bisnis dan 35.000 Rupiah untuk kelas Executif, sementara untuk Argo Gede, ticket yang dipatok adalah 45.000 Rupiah. Sebuah pola tarif yang tidak mungkin diikuti oleh pesaing-pesaing lainnya.

PT.KA (Persero) bahkan mendapatkan peningkatan revenue lebih dari 15% setelah tarif murah Jakarta Badung ini diterapkan, hal ini juga tercermin dari antrian yang mengular di locket Parahyangan dan Argo Gede.

Kenyamanan

Salah satu factor utama yang diidam-idamkan para penumpangnya yang sampai saat ini masih belum dapat dipenuhi oleh PT.KA (Persero). WC Bau, Penumpang Liar yang tidur di gang, AC tidak dingin, terlambat, locomotif mogok sampai dengan rangkaian anjlog memang masih menghantui para penumpang. Sebuah PR rumit yang belum dapat diselesaikan oleh pihak terkait (PT.KA dan Departemen Perhubungan).

Dukungan Pemerintah

Pemerintah pusat dan daerah sepertinya lebih menyukai membangun jalan tol dengan dalih menghidupkan dunia investasi. Pemerintah pusat seolah tidak tertarik dengan moda transportasi kereta api. Hal ini tercermin dari semakin menyusutnya jalur kereta api yang ada.

Pemerintah sebaiknya juga memperhatikan dengan serius moda transportasi ini. Sudah waktunya memperbaiki segala prasarana yang ada serta mulai membuka jalur-jalur baru. Bahkan saat pemerintah membangun jalan tol, sebaiknya disertakan juga lahan untuk jalan kereta api (suatu hal yang sulit dilakukan oleh Pemerintah yang profit oriented)

Pola hidup hemat dengan mengurangi penggunaan BBM oleh pemerintah, tampaknya kontra produktif dengan dibukanya jalur-jalur jalan tol abru. Padahal kereta api dapat memberikan kontribusi penghematan yang besar jika dapat memaksimalkan penggunaan jalur kereta api.
Bukan dengan membangun jalan tol dengan dalih pembangunan dan menarik investasi, karena akan semakin membuat orang boros dalam menggunakan BBM.

Dukungan pemerintah juga sebaiknya ditujukan kepada pelayanan, misalnya dengan memberikan standar minimal pelayanan yang dituangkan dalam peraturan pemerintah. Sehingga operator kereta api dalam hal ini PT.KA (Persero) dapat bertindak lebih serius dalam pemberian pelayanan kepada penumpangnya.

Ayo.. kawanku.. lekas naikkk.. keretaku ‘tak berhenti lama.