2

Jumpa Guru kelas 1 SD

Jika mendengar kata 32 Tahun, banyak orang yang akan teringat masa kepemimpinan Presiden Soeharto yang menjadi Presiden Republik Indonesia selama 32 Tahun, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh Presiden BJ Habibie.
32 Tahun juga bukanlah sebuah waktu yang pendek, setidaknya adalah setengah dari usia hidup manusia. Sedangkan bagi saya, 32 Tahun adalah sebuah kesempatan berjumpa kembali dengan para pengajar saya dimasa Sekolah Dasar.

Sabtu sore ini, saya mendapat ajakan dari teman-teman dimasa sekolah dasar untuk mengunjungi bekas sekolahan sekaligus berolahraga. Maklum saja, saat ini badan kita ternyata sudah tidak sekurus masa SD, malah cenderung memiliki perut yang gendut.

Sejak lulus kelas 6 SD Strada Wiyatasana, hanya beberapa kali saja saya datang ke sekolah dasar di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan ini. Saat itupun hanya karena mengikuti latihan bela diri setiap hari Minggu malam yang saya ikuti sejak masih SD. Setelah itu, blas sama sekali tidak pernah mampir.

Banyak perubahan yang terjadi terhadap Sekolah ini. Dimasa lalu, sekolah yang memiliki halaman luas serta bangunan asri yang dilengkapi taman kecil di depan kelas, saat ini berubah menjadi sebuah bangunan empat lantai yang kokoh seperti sebuah benteng.  Dalam hati saya merasa suasana keriangan semasa SD dulu, tidak lagi terpancar dari sekolah ini.

Ada satu yang saya ucapkan saat itu, kelak anak-anak saya tidak akan pernah menjadi anak murid di sekolah ini.

Belum selesai memandangai sekolah yang berubah ini, saya kembali dikejutkan dengan kehadiran guru-guru masa SD saya. Terkejut campur senang melihat mereka masih segar bugar dan masih mengenali kami, walau sudah lebih dari 26 tahun meninggalkan sekolah ini.

Bu Valentin

Beliau adalah ibu guru pertama saya di Sekolah Dasar alias guru kelas 1 SD saya. Penampilannya cukup banyak berubah, mungkin karena usia yang bertambah setidaknya 32 tahun sejak saya kelas 1 SD.

Walau begitu, dia masih mengenal saya dengan cukup baik. Bahkan masih ingat nama orang tua serta alamat saya tinggal saat itu.

Banyak cerita beliau yang tidak saya ingat. Salah satu yang paling sering saya lakukan saat kelas 1 SD adalah memintanya untuk mengantarkan saya pulang kerumah karena saya terlalu asik bermain sehingga ketinggalan bus antar jemput.
Sebuah cerita yang saya tidak ingat sama sekali, tetapi beliau bercerita seperti sebuah kejadian yang berlaku kemarin saja.

Pak Jito
Pak Jito adalah guru saya di kelas 2 SD. Saat itu, kelas 1 dan kelas 2 hanya memiliki seorang guru yang mengajarkan seluruh mata pelajaran. Saat itu saya berpikir, mereka adalah guru-guru yang pintar yang tidak perlu ganti guru untuk setiap mata pelajaran.

Di masa Pak Jita di kelas 2 SD, saya mengalami konversi masa tahun ajaran, dimana tahun ajaran dari Januari – Desember berubah menjadi Juli – Juni. Sehingga saya mengalami masa belajar di kelas 2 selama satu setengah tahun lamanya.

Beliau juga sangat ingat dengan saya, keluarga saya dan alamat rumah saya.

Pak Markus

Beliau adalah wali kelas saya di kelas 3 SD. Kelas pertama yang saya jalani mulai dari jam 07:00 pagi sampai jam 12:00 siang. Di kelas 1 dan 2 SD, kami belajar cuma sampai jam 10.00 saja.

Beliau pernah menstrap kami sekelas karena kami mengucapkan salam dengan asal-asalan. Saat itu kami tidak menyangka beliau akan marah, dan kami harus membuat kesepakatan untuk tidak mengulanginya kembali.

Saat ini beliau tampak seperti pendiam, padahal dimasa lalu jambang saya sering ditariknya setiap kali saya melakukan kesalahan atau kenakalan.

Bu Ully

Ibu yang satu ini memang tampak gaul. Beliau adalah merupakan guru favorit kami dimasa SD. Orangnya ramah tetapi sekaligus tegas. Beliau membawakan mata pelajaran seni suara.

Saya mulai bertemu beliau di kelas 5 SD. Setiap memasuki mata pelajaran seni suara, setiap kelas akan berlomba-lomba menyanyi bersama sekeras-kerasnya sehingga didengar kelas lainnya.
Kami sering berkompetisi antar kelas secara tidak resmi di mata pelajaran ini, kelas yang bernyanyi paling keras adalah kelas yang hebat saat itu.

Beliau juga mengajarkan kami seni drama sederhana yang meminta kami pentas di depan kelas secara berkelompok.

Pak Herry
Bapak yang terlihat ramah ini mengajarkan mata pelajaran olah raga. Beliau bergabung mulai tahun 1980, yaitu saya duduk di kelas 4 SD.

Saya sempat mengikuti tim lomba baris-berbaris PMI se Jakarta Selatan yang dipimpin oleh beliau, hasilnya saat itu jika tidak salah adalah juara harapan 1 se Jakarta Selatan, prestasi yang lumayan.

Tidak saya sangka mereka masih mengenal kami dengan cukup baik, dan saya merasa sangat senang masih dapat berjumpa lagi dengan mereka setelah sekian lama tidak bertemu.

Mungkin anda masih memiliki kesempatan untuk dapat berjumpa dengan guru-guru Sekolah Dasar di masa lalu. Saat ini juga coba hubungi teman-teman SD dan rencanakan untuk berjumpa dengan mereka. Jangan sampai anda kehabisan waktu untuk dapat berjumpa dengan para pahlawan tanpa tanda jasa ini.

——-
Lokasi:

View Larger Map

Hedwigus

2 Comments

  1. Walah guruku sama semua dengan kang Hedwig!

    Hedwig?: Sebagai adik kelas.. kudhu nurut :p

Tinggalkan pesan kamu