3

Golfer Story

Golf adalah sebuah permainan yang termasuk saya sukai. Sejak 1999 cukup intens bermain golf, bahkan sebelum berkeluarga setidaknya sebulan 2 kali selalu merumput di padang golf sekitar Jakarta, sesekali terbang ke Pulau Bali untuk bermain di sana.

Waktu awal bermain golf tidak menyangka jika permainan ini membuat banyak orang bak kecanduan, sehingga hampir setiap minggu bahkan setiap ada kesempatan selalu pergi ke padang golf.
Awalnya saya bermain golf karena semua teman dekat bermain golf dan kebetulan di rumah ada satu set Ping yang tidak pernah digunakan.
Selain itu, ada yang menarik bagi saya di padang golf atau di driving range, yaitu makanannya.
Menurut saya seluruh tempat golf adalah tempat makan yang enak, selain suasananya yang cukup terbuka, karena memandang green, menu makanannya pun enak-enak. Favorit saya adalah es campur dan sop buntut. Dijamin, di seluruh padang golf di Indonesia pasti menyajikan dua menu ini.

Golfer Story

Beberapa teman mulai mengurangi kegilaan bermain golf saat mulai berkeluarga, begitu juga dengan saya. Di tahun 2007 ini saja, saya cuma merumput satu kali, yaitu di Emeralda, itu juga karena di undang oleh seorang teman. Berkumpul dengan keluarga adalah prioritas utama sekarang.
Berlainan dengan saya, beberapa teman masih tetap bermain golf walau acap kali “dimarahi” oleh sang istri tercintanya. Tetapi yang namanya kecanduan,”golf is golf, istri cerita lain“.

Salah seorang teman datang ke saya beberapa tahun yang lalu, tidak lama setelah dia menikah.

T: “Payah nih bokin gua, udah ngelarang gua main golf“.
H: “Emang kenapa ?, bisnis lu khan banyak, mosok main golf dilarang”.
T: “Gak tahu lah, tapi setiap gua pergi main golf selalu disirikin“.
H: “Coba aja lu ajak sekali-kali main, modalin dengan beli club buat cewek”

Beberapa waktu kemudian dia datang dan berkata, sekarang bokin gua yang kecanduan dengan golf… he he he

Ada lagi cerita lain yang datang dari seorang teman.

T: “Aduh, gua sekarang sudah dilarang golf sama bokin gua !“.
H: “Kenapa memangnya ? Lua ajak aja bokin lu main sekalian “.
T: “Bukan itu masalahnya, bokin gua sih gak doyan panas-panas, tapi dia selalu bilang golf itu buang-buang duit, payah deh“.
H: “ha ha ha, itu sih masalah sepele. Besok elu ke Carrefour, terus beli voucher 100 Ribuan barang 10 lembar, kemudian setelah pulang dari main golf, lu kasih voucher itu ke bokin lu, bilang aja dapet doorprize karena main golf”.

Beberapa waktu kemudian dia kembali datang dan berkata, istrinya sudah ngijinin main golf, apalagi jika ada hadiahnya. Dia bahkan bela-belain beli televisi 14-inch terlebih dahulu sebelum bermain golf, buat dijadikan door-prize jadi-jadian untuk istrinya.

Cerita perselingkuhan yang terjadi di kalangan golfer sudah banyak terjadi, sebuah cerita yang pernah saya dengar berikut ini cukup menarik.
Seorang suami yang memiliki pacar gelap selalu berdalih bermain golf kepada istrinya saat ingin berjumpa dengan sang pacar. Sampai suatu hari si istri mulai curiga dengan kelakuan sang suami. Suatu malam si istri mengambil tongkat putter dari bag golf sang suami. Putter adalah tongkat yang digunakan untuk memasukan bola golf ke dalam lubang di green. Seperti biasa saat sang suami ingin berjumpa dengan kakasih gelapnya, dia berdalih bermain golf bersama rekan bisnisnya. Setelah pergi seharian, malamnya sang suami kembali pulang ke rumah, dan sang istri dengan mesra bertanya, bagaimana permainan golfnya. Tanpa curiga, sang suami berkata bahwa hari ini dia bermain cukup bagus dan beberapa kali bermain birdie. Tentu saja sang istri tidak percaya, karena putternya dipegang olehnya saat itu dan tidak mungkin dia dapat bermain golf tanpa putter

Bak sebuah peraturan tak tertulis, tidak pernah ada golfer yang rela putternya dipegang atau dipinjam orang lain.

Dan terbongkarlah “kegiatan” sang suami dan khabarnya mereka berdua bercerai, Divorce by a putter beberapa orang menyebutnya.

Bagi saya, bermain golf masih merupakan sebuah permainan yang menarik, beberapa kali anak-anak, saya ajak bermain di driving range walau akhirnya mereka lebih memilih bermain ayunan bahkan berenang, tetapi mengenalkan golf kepada anak-anak mungkin sebuah usaha yang baik, karena dalam permainan golf kita dituntut untuk berlaku jujur dan sportif, karena bermain golf adalah melawan diri sendiri.

Berani golf ?

Hedwigus

3 Comments

  1. sesekalinya megang golf club, di driving range, minjem temen, mukul bola nya pun gak kena..
    abis itu gak pernah lagi 😀

  2. Cerita selingkuhannya lucu, pinter juga istrinya. Bisa jadi contoh cara menjebak untuk kegiatan lain: memancing, belanja.

  3. Boleh kukutip kan ceritanya. Buat publikasi buku ttg golf, sebagai intermeso biar bukunya menarik u pembaca.

    Hedwig?: Monggo.. silahkan.. jangan lupa quotenya.. apalagi kalo mau sekalian nraktir main di Bogor Raya 🙂

Tinggalkan pesan kamu