Entries Tagged as 'Office'

Error 2.0

Error 2.0 - Artikel ini untuk menghargai orang-orang yang sebelumnya pernah menghire saya untuk turut serta membangun sebuah community portal.

Thanks for everything pak, Semoga sukses dengan program-program yang telah direncanakan.

–Artikel ini dirubah tanggal 28 September 2007 9:44–

No Tags

Banjir di kantor

Tanjung Duren BanjirJam 12:26 seperti yang tertera di pojok kanan bawah monitor gua, dan perut sudah minta diisi. Gua bergegas ke bawah untuk keluar makan siang.

Saat ini gua berkantor di sebuah ruko di bilangan tanjung durian jakarta barat.

Karena posisi ruangan tempat gua berkativitas tidak memiliki akses ke jendela, gua gak tahu kalo ternyata di luar sedang hujan cukup deras. Sampai di bawah di depan lobi, bukan hujan yang gua khawatirkan melainkan banjir.

Musim kemarau kebanjiran, ya di tempat gua salah satunya. Hujan deras enggak sampai 1 jam telah membuat kali sekretaris di depan kantor gua meluap dan membanjiri pelataran parkir.

Gua gak tahu mengapa sungai di depan ruko kantor tempat gua kerja diberi nama kali sekretaris. Padahal sungai tersebut berair hitam legam penuh polusi.

Sudah bisa ditebak, gua batal makan siang karena banjir kira-kira 20cm. Agak susah untuk bergerak melalui halaman ruko orang lain, karena sudah dipenuhi sepeda motor dan mobil yang nangkring menghindari banjir. Tukang bakso yang biasa mangkal di depan kantor juga memilih menghindar dengan menggelar dagangannya di pintu utama kompleks ruko yang bebas banjir karena posisinya lebih tinggi.

Banjir di Tanjung Duren depan Kali Sekertaris

Sekarang jam 2an, hujan masih gerimis. Menurut temen-temen yang sudah sering menghadapi banjir di kantor, jika tidak ada hujan lagi, dalam waktu 3-4 jam air bakalan surut.
masalahnya cacing-cacing ganas di perut gua sudah gak mampu menunggu selama itu, apalagi gua.

No Tags

Penumpang Gelap

Seperti biasa, setiap sore pulang dari kantor ke rumah menggunakan KRL Depok Express.

Sore tadi, gua sempat naik KRL Depok Express yang berangkat dari Station Jakarta Kota jam 17:20. Karena rangkaian masih belum penuh, gua memilih jalan ke depan dan kemudian naik dan duduk di gerbong satu.
Tepat waktu, KRL Depex berjalan meninggalkan Station Jakarta Kota (atau ada orang yang menyebut Station Beos).

Kira-kira 5 menit setelah itu, rangkaian tiba di Station Juanda. KRL memang berhenti normal di station ini untuk menaikan penumpang.
Begitu pintu terbuka, berhamburanlah puluhan orang masuk untuk memperebutkan kursi kosong yang tersisa. Gerbong satu langsung penuh seketika, ada yang duduk, berdiri, duduk di dingklik (kursi lipat kecil) dan ada juga yang lesehan beralaskan koran.
Sampai di Station Gambir, kembali kejadian yang sama terjadi. Gerbong yang mulai penuh kembali diisi orang-orang yang akan kembali pulang setelah seharian beraktivitas di Jakarta.

Di Station Gondandia setelah kira-kira 15 menit rangkaian meluncur dari Station Jakarta Kota, kembali Rangkain Depex berhenti untuk menaikan penumpang. Kejadian terulang kembali, setelah pintu terbuka, puluhan orang kembali merangsek masuk ke dalam rangkaian, KRL Depex Gerbong Satu langsung penuh sesak.

Tiba-tiba dari arah depan (dekat ruang masinis) ada sedikit kegaduhan, dan diikuti dengan orang-orang yang berhamburan keluar dari kereta api.

“ada apa nih mas, koq orang pada keluar, ada copet ya ??” seorang ibu di sebelah gua bertanya.
“Aduh!! jangan-jangan ada kebakaran ya !!” lagi seorang ibu tampak cemas, sambil siap-siap lompat keluar.

Sekilas gua melihat ada petugas PS (Polisi Sepur … gua juga belum tahu arti sebenernya sih) yang keluar dari kabin masinis.

“tenang saja ibu, orang pada kabur bukan karena copet atau kebakaran. tapi ada petugas PS, tuh lihat aja ada 5 orang” gua bicara kepada kedua ibu tersebut.
“ow. pantesan pada kabur!” mereka berdua sambil tersenyum.

Para penumpang di gerbong satu sangat senang dengan kejadian lucu tersebut, karena sebagian orang yang ternyata tidak memiliki karcis express alias penumpang gelap, berebutan turun lantaran takut didenda Rp.30,000,- oleh para petugas itu.
Rangkaianpun menjadi lowong dengan hanya 6-7 orang yang berdiri, setelah sebelumnya penuh sesak.

Rangkaian KRL Depex Gerbong Satu memang adalah tempat andalan bagi para penumpang gelap tanpa karcis express. Di sini mereka merdeka, karena sang kondektur dapat dibungkam dengan mudah hanya dengan memberi uang 3000an saja (ya!! bukan 5000an alias goncengers, tapi cukup 3000 rupiah saja). Bahkan beberapa orang lebih berani lagi dengan pura-pura memiliki KTB (Kartu Tanda Berlangganan) alias Abudemen.

Memang tingkat rasa memiliki para penumpang memang tinggi, sampai naik kereta api pun maunya gratisan. Awak kereta api juga masih memiliki dedikasi yang rendah dengan mencari uang tambahan melalui cara yang salah. Ujungnya pelayanan tidak akan dapat diberikan secara maksimal, karena kedua belah pihak lebih menginginkan kondisi saat ini dapat berlangsung selamanya

No Tags

Way to go to the Office

Dulu pertama kali mulai kerja, berangkat ke kantor dari rumah, menggunakan kereta KRL Ekonomi, naik dari Station Pasar Minggu dan turun di Station Juanda. Setelah itu kemudian nyambung PPD dan Metromini untuk sampai ke kantor di wilayah Sunter Agung. Capek memang, tetapi cepat dan murah, plus keringetan.

Kemudian pindah ke perusahaan baru, tetap berangkat dengan menggunakan kereta KRL Ekonomi yang berangkat dari Station Pasar Minggu kemudian turun Station Gondangdia. Setelah itu jalan kaki sampai ke kantor, cukup dekat karena berada di kawasan Kebon Sirih.

Lama berselang kereta KRL mulai ditinggalkan karena semakin penuh dengan pelayanan semakin menurun, jadi setiap hari pergi pulang kantor menggunakan mobil pribadi (sebenarnya mobilnya ayah).

Setelah menikah dan tinggal di Depok, kebiasaan lama naik kereta api mulai terasa kembali. Dari Station Depok (lama), naik KRL Depok Express, walau tiketnya lebih mahal dari KRL Ekonomi, yaitu Rp.9000 vs Rp.150, naik KRL Depok Express cukup nyaman karena dilengkapi AC dan tidak berhenti pada setiap station.

Jika harus ke kawasan Kebon Sirih, berangkat menggunakan KRL Depok Express (jam 06:25, 07:12, 08:00) dan turun di Station Gondangdia, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki.
Tetapi bila harus bertugas di kawasan Mampang Prapatan, berangkat menggunakan KRL Depok Express Tanah Abang(jam 06:35, 07:46, 08:25) kemudian turun di Station Sudirman / Dukuh Atas, kemudian setelah itu disambung dengan Metromini 640 turun di Gatsu atau menggunakan Busway TransJakarta dari halte Latuharhary dan turun di halte Mapang Prapatan.

Sekarang sudah pindah perusahaan kembali, kendaraan andalan dari Depok buatku ya tetap saja KRL Depok Express, last-mile nya saja yang diatur, jika ke kawasan Kebon Sirih ya turun di Station Gondangdia, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki.
Apabila ke kawasan Slipi, turun di Station Sudirman, kemudian dilanjutkan dengan menumpang bus kota PPD 213 arah ke Grogol.
Dan jika harus ke kawasan Tanjung Duren, setelah turun dari bus kota yang ke Grogol, ya sambung lagi dengan metro mini dan ditambah jalan kaki.

Jangan lupa setiap hari setidaknya harus berjalan 10,000 langkah, supaya sehat

Jumpa Samuel Mulia

Pada suatu siang sambil makan ikan dan wortel rebus, saya mengobrol dengan teman pria yang bekerja di satu biro iklan terkemuka dan seorang perempuan muda berprofesi sebagai penata gaya paruh waktu di sebuah majalah mode perempuan.Adalah sebuah kutipan di Kompas yang gua baca. Bukannya mau sok menjadi penulis, tetapi pekerjaan baru yang gua jalani sekarang membutuhkan skill menulis (dan juga membaca… kata Dono, kalo bisa nulis gak bisa mbaca.. namanya bingung). Khususnya tulisan-tulisan tentang lifestyle (gaya hidup).

Hampir setiap minggu gua baca Kompas Minggu (yang suka telat datangnya), dan gak tahu kenapa gua koq rada-rada suka dengan tulisan tentang gaya hidup.
Bah…koq jadi gini ya… sejak kapan gua suka dengan lifestyle, biasanya gua bisa berjam-jam membaca technical guidance, tapi sekarang mendadak doyan lifestyle.
Sialan neh..
Penasaran gua…siapa nih yang nulis..
Namanya ternyata Samuel Mulia, begitu yang gua lihat di Kompas Minggu.

Siang tadi gua bersama bos gua yang baru, diajak meeting, karena mau ditemukan dengan orang yang jago sebagai Chief Editor.
Gua segera memacu ojeg sewaan gua ke Plasa Senayan, seperti biasa hari Jum’at, jalanan di Jakarta pasti macet, jadi pake ojeg adalah pilihan bijaksana (menurut gua).
Bos-bos gua ternyata sudah pada sampek di Starbuck, Plasa Senayan.
Gua gak tahu kenapa doyan banget meeting di Starbuck, tapi ya gua nurut aja.

Sang Editor ternyata sudah tiba juga di sana, dan mereka telah memulai sesi meeting terlebih dahulu.
Gua memperkenalkan diri, dan si editor menyebut namanya….. Samuel….
weleh, inikah si Samuel yang itu..
karena jaim gua manggut-manggut aja.

Dua jam kita ngobrol kiri kanan atas bawah tentang dunia mode dan lifestyle (makin kacau aja neh gua). Dan ngobrol dengan Samuel ternyata cukup enak, dia mau berbagi pengalaman sama mau kasih advice-advice tentang menulis artikel mode dan gaya hidup.
sebenernya gua mau iseng nanya ke Samuel, gimana caranya gaya menulis technical guidance sehingga menjadi enak dibaca seperti baca artikel lifetsyle. Tapi daripada berantem, mending gua diem aja… diem adalah lapar.

Samuel pamit duluan karena masih banyak kerjaan. Manusia satu ini ternyata super sibuk harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta. Dan lumayan, gua bisa nambah beberapa item ke Product Brief yang sedang gua susun.

Gua juga harus cabut, ngejar busway ke Station Jakarta Kota dan naek Depok Express ke Depok, mudah-mudahan Depex 17:25 telat berangkat dari JAKK.

Launch

Hari ini press releases www.cooldesak.com di Hotel Mulia Senayan.

Masih belum sempurna banget, dan yang jelas belum memenuhi kriteria web 2.0

No Tags

Interview with Nokia

Sudah lama gua gak interview sama perusahaan laen, mungkin udah keenakan diboongin di Bimantara Group kali ha ha ha.
Hari ini gua interview sama Nokia Indonesia. Gak grogi sih cuman aneh aja gua harus pake dasi lagi setelah sekian lama meninggalkan dasi gara-gara gaya aja kerja di content provider.

Gak tahu prospeknya gimana, seenggaknya gua tahu lah pasaran diluaran, atau mungkin gua bisa ngerti cara dagang handphone

nokia indonesia

Koran Sindo

Koran Sindo

Ada berita beredar kalo beli Koran Sindo itu susah banget, karena di block sama Kompas…. its that true… gua sih gak belain Kompas…

Pagi-pagi gua sengaja nungguin loper koran langganan bokap gua yang biasa nganter Kompas.
Mas.. mulai besok gua langganan Sindo ya….
Baik Pak, tapi kadang-kadang, Sindo datengnya suka telat, jadi nanti Kompas nya ikut telat, gimana Pak ? kata loper korannya.
hmmm.. apakah ini yang disebut sama blocking oleh Kompas… tapi disebutkan secara halus dengan bilang akan telat datangnya.
Karena niatnya ngetest.. akhirnya gua agree untuk langganan Sindo.

Koran Sindo Sport

Besok paginya gua sengaja bangun pagi lagi….
ternyata bener, biasanya Kompas dateng jam 5:30 eh hari ini sampek jam 6:30 belum ada satupun koran langganan bokak gua yang dateng.
Jam 7 kurang dikit akhirnya loper korannya dateng, ngasih Sindo sama Kompas….
Gua pikir jam 7 masih oke-oke aja, walau biasanya jam segitu gua udah sampek Menteng nganter bokin.

Hari ini sudah hampir 2 bulan gua langganan Sindo, dan makin hari, semakin baik datengnya.
Kadang-kadang jam 5:30 tuh koran dua-duanya udah dilempar ke halaman gua…
Ada kalanya juga jam 6:30 lopernya baru nyampek, dan alasannya selalu menunggu Sindo nya sampek….(emang Sindo naek apaan sih, koq suka telat).
Tapi secara keseluruhan koran-koran itu dateng sebelum gua pergi ke kantor (rata-rata jam 6:00).

Koran Sindo ini hasil besutan Grup Bimantara melalui sub holdingnya Media Nusantara Citra menurut gua cukup oke, gak terlalu norak-norak banget .. ha ha ha ha… abis halaman satunya banyak banget photonya… kayak koran Lamer… ha ha ha….
Isinya juga cukup oke, gak berat-berat banget kayak Kompas.
Dan yang lebih bikin gua takjub… isinya cuman seputar cerita di RCTI, TPI dan Global TV plus KDI, Indonesian Idol dll dll….
gua pikir ini sinergi grup, mungkin wajar-wajar aja…. (gua bukan pengamat media).. tapi dengan baca koran ini, gua gak perlu nonton acara-acara di tivi-tivi tersebut.. jadi malem-malem gua bisa nonton channel-channel laen khususnya sport channel… nanti result KDI, Indonesian Idol, etc..etc… tinggal dibaca di Koran Sindo.. besok paginya… he he he..

Terus hampir tiap hari ada iklan gede banget dari toko barang elektronik di koran Sindo, gua gak tahu

Koran Sindo Agis

apakah itu satu grup atau ada deal apa, tapi lucu juga… tiap hari ngeliat iklan yang sama… nawarin alat-alat elektronik.
Mungkin kalo gua udah cukup banyak duit, bisa juga nyoba beli setrikaan lewat koran.. he he he…

Yang paling gua suka dari Koran Sindo adalah halaman sport yang dipisah (Kompas juga dipisah sih..)
Gua gak perlu rebutan sama reader laen cuman untuk baca hasil sepak bola dan laen-laen…

Anyway, sampek sekarang gua masih berlangganan Koran Sindo, gak norak.. lagi pula murah (ini salah satu yang penting)…
Dan menurut gua, isu Sindo di block sama Kompas… gak terbukti (setidaknya di lingkungan gua tinggal), malah harganya lebih murah daripada Kompas.
Tapi ya itu di lingkungan gua, gak tahu kalo di tempat laen….

No Tags

Handphone Dinas

Nokia 6680

Perusahaan tempat gua kerja, ngasih fasilitas handphone dinas untuk dipake buat ngetest aplikasi-aplikasi yang akan dibuat sama development team.

he he he lucu juga, belum pernah gua dikasih fasilitas kayak gini.
Nomernya prepaid, terus dapaet jatah pulsa bulanan, kalo kurang isi sendiri, tapi harus dipake buat testing-testing…

Lumayan bisa gaya pake handphone dinas.

No Tags

Bonus ! Reality Show or What !

Weg.. asik ya, divisi lu bagi bagi bonus“, suatu pagi temen gua ngomong ke gua sambil jalan.
Walah, gua langsung deg-deg an, gak ada tendeng aling-aling, tiba-tiba gua mau dikasih bonus.
Mumpung kantor masih sepi, gua langsung buka internet banking gua.
Duaaarrr… ternyata gak ada, gua cek di transaksi, ternyata LLGS terakhir ya gaji gua bulan kemaren yang gak naek-naek itu.
Wah belum masuk kali, sambil senyum-senyum menghibur diri.

Cepek Ceng

Udah dua minggu, temen gua lewat lagi, “Weg.. lu dapet bonus, tapi gak traktir-traktir gua!”.
Wak, apa-apain nih, wong gak ada perubahan berarti di rekening bank gua koq.
Jangan-jangan temen-temen gua mau ngerjain gua. Sialan dalam hati.

Lagi asik bikin report (bikin report koq asik ?.. gak jelas!). Temen gua tiba-tiba udah duduk di depan gua. “Hed.. bener gak sih, kantor kita bagi-bagi bonus” walakadah. Mumpung semua orang lagi demam bonus atau lagi pada ngerjain orang, gua isengin aja sekalian.
“Lu tahu gak, kita semua bakalan dapet bonus, minimal 1x gaji” ha ha ha gua ketawa dalam hati, sambil menahan tetep cool.
“Bener lu” temen gua kemakan ama gua.
“Bener, lu cek aja, minggu ini paling telat”. he he he he biar rasa lu.
“Wah, kebetulan, utangan credit card gua udah banyak neh, sama gua bisa bayar asuransi” katanya sambil berninar-binar.
Ha ha ha emang enak gua kerjain.

Seminggu berlalu, SMS masuk ke hp gua. “WEG, MANA BONUS KOQ GAK MASUK-MASUK” ha ha ha gua ketawa ngakak sendirian.
Gua bales aja “AH YANG BENER LU, SETAHU GUA SIH UDAH DITRANSFER” gubrak… bete gak lu.
Dibales lagi “KOQ GAK MASUK KE TEMPAT GUA YA”.
Gua bales dengan lebih dasyat “KALO GAK SALAH, BONUS DIKASIH BUAT YANG SALES PERFORMNYA BAGUS AJA”… ha ha ha ha….
Di SMS lagi “MOSOK SIH, YAA KALO GITU GUA GAK PERFORM DONG”.
ha ha ha

uang

Kantor tempat gua kerja, saat ini sedang dalam masa merger dengan perusahaan laen.
Setahu gua sih dalam proses merger seperti ini, seluruh cost bakalan diirit-irit termasuk bagi-bagi bonus, lagian seumur-umur gua kerja di sini gak pernah ada yang namanya bonus.
Gua sempet Ge eR waktu ada yang bilang mau dikasih bonus, but this is the Real Reality Show… NO BONUS AT ALL.

No Tags