Entries Tagged as 'Photography'

Head to Head Canon EOS 450D Price

Harga di Jakarta, pada tanggal 22 Agustus 2008 berdasarkan data dari online merchan yang menjual kamera Canon EOS 450D KIT dan bergaransi Datascript.

JPCKemang : IDR 7,107,000
Octagon : IDR 7,125,800
TokoCamZone : IDR 7,115,000

Happy hunting

Canon EOS 7D

Canon EOS 7D

Belum ada satu orang atau website yang bisa mengkonfirmasi keabsahan image diatas. Sebuah isu yang menggembirakan dari Canon yang katanya akan meluncurkan seri full frame digital camera terbaru. Semoga isu ini benar adanya, dan apabila benar, pemiliki Canon EOS 5D harus siap-siap migrasi ke seri ini.

Oh iya, sekalian ikutan menghembuskan isu, Canon EOS 7D bakalan dibanderol USD 1900 alias di kisaran 18 Juta Rupiah saja.

Kamera digital untuk liburan sekolah

Libur t’lah tiba.
Bulan Juni-Juli adalah masa-masa bahagia bagi para pelajar, karena masa liburan akhir tahun ajaran setelah menerima raport kenaikan keras. Banyak kegiatan yang pasti sudah direncanakan untuk menghabiskan liburan kali ini.

Jalan-jalan alias wisata biasanya menjadi kegiatan terfavorit untuk menghabiskan masa liburan. Jalan-jalan tanpa dokumentasi rasanya akan kurang pas. Karena biasanya liburan diisi dengan acara-acara yang santai, maka peralatatan photography yang dibawa biasanya yang simple dan tidak terlalu memakan tempat. Pilihannya adalah kamera digital.

Banyak orang menggunakan handphone atau PDA untuk memotret, ringkes memang, tetapi tetap saja handphone bukan untuk memotret.

[Read more →]

EOS 450D menunda cita-citaku

Keinginan untuk mengganti EOS500 ku yang masih analog ke kamera Digital SLR sebenarnya sudah menjadi cita-cita setidaknya 3 tahun belakang ini. Ya, sejak 2004 lalu, saya memang ingin sekali memiliki sebuah Digital SLR yang dapat menemani setiap kegiatan mblusukan ngejar kereta api.

Akhir bulan ini juga sebenarnya niatan tersebut sudah hampir dilaksanakan 99.999%, yaitu dengan membeli Canon EOS 400D. Digital SLR dengan harga yang cukup terjangkau. Banyak yang menyarankan untuk loncat sekalian ke EOS 40D, tetapi lagi-lagi budget adalah segalanya, perbedaan 2 Juta Rupiah dapat mempengaruhi hidup saya sehari-hari.

Bulan Januari sudah mulai memasuki penghujung bulan, berarti tanda waktu bagi saya untuk melaksanakan cita-cita yang sudah 3 tahun tertunda siap untuk direalisasikan, sampai pagi ini saat membuka www.dpreview.com.

[Read more →]

Toss Photography, seru, tetapi hati-hati rusak!

Sedang googling tiba-tiba melihat sebuah artikel tentang toss photography atau ada yang menyebutnya dengan camera toss.
Sebuah teknik memotret dengan cara melempar kamera ke atas kemudian ditangkap lagi (kalo enggak ditangkap yang pasti kameranya langsung jebol jatuh ke aspal).

Teknik ini sebenarnya gampang-gampang sulit, gampang dalam arti tinggal menset kecepatan rana diatas 100 dan membuka diafragma antara 4.0 - 5.6 dan set focus ke ~, berikutnya set delay shutter menjadi 3 detik (ada beberapa kamera yang memiliki delay shutter default selama 10 detik). Setelah itu lembar kamera ke atas dan “cekrek’ toss photography sukses dilakukan.

Susahnya cuman satu, yaitu kita tidak pernah dapat mengontrol ke arah mana kamera akan memotret. Perlu dicoba berulang kali sampai diperoleh hasil yang menurut kita bagus.

Toss Photography

Gua mencoba teknik ini di halaman rumah, karena di situ ditumbuhi rumput, alasannya jika kamera gagal tertangkap masih dapat tertahan rerumputan dan tidak hancur berantakan.

Seorang satpam yang melihat aktivitas gua sempat senyum-senyum tetapi enggak berani tanya.

Agar aman, motretnya siang-siang dengan intensitas cahaya yang tinggi, harapannya agar hasilnya terang dan pergerakan kamera dapat diikuti oleh mata sehingga mudah menangkapnya.

Bisa dibayangkan jika melakukan camera toss pada malam hari terus mata kena cahaya lampu blitz hasilnya pasti susah nangkep kameranya (mau coba, silahkan).

Sebuah teknik yang asik, perlu dicoba untuk photo bersama, jika hanya dipotret dari depan sudah biasa, tetapi dipotret dengan teknik camera toss pasti seru banget.

Berani mencoba ?

Railfan Photo Hunting - Station Plabuan

Jum’at Subuh 17 Maret 2006
B
angun pagi, terus mandi langsung berangkat ke Dipo Traksi Jatinegara. Hari ini memang sengaja bolos masuk kantor karena sudah ada rencana pergi hunting photo ke Station Plabuan di Jawa Tengah.

Total ada enam orang yang berangkat pagi itu, menggunakan Kereta Api Argo Muria, kami turun di Station Pekalongang. Station Plabuan adalah sebuah station kecil sehingga hampir tidak ada kereta api yang memiliki jadual berhenti resmi di sana, apalagi kereta api kelas 1 seperti jajaran kereta argo.
Dari Station Pekalongan kami menumpang Fajar Utama Semarang, dan kami minta bantuan masinisnya untuk dapat menurunkan kami di lokasi terdekat Station Plabuan.
Fajar Utama akhirnya berjalan pelan di lokasi Sinyal Masuk Station Plabuan, dengan hati-hati kami melompat dari kereta api yang berjalan pelan. Kami berteriak mengucapkan terima kasih kepada Masinis yang baik hati dan dibalas dengan semboyan 35 dari lokomotive.

Waktu menunjukan pukul 13:40 ketika kami berjalan lebih kurang 500 meter ke arah Station Plabuan, hari itu panas luar biasa, kepala terus berdenyut-denyut seakan mau pecah. 20 menit kami berjalan menyusuri rel kereta api dan akhirnya sampailah kami di Station Plabuan.

Station Plabuan

Station ini berada di lokasi yang terpencil, tepatnya di pinggir pantai utara, dan bila melalui jalan raya lintas utara, lokasi ini berdekatan dengan daerah Alas Roban, dari jalan raya masih harus berjalan lagi lebih kurang 15Km ke arah pantai.
Perumahan nelayan berada persis di depan station, suara ombak di pantai terdengar dengan jelas dan menjadikan station ini memiliki suasana yang berbeda dengan station lainnya. Sementara dibelakang station daerah perbukitan yang ditutupi oleh pepohonan yang rimbun. Suasana panas dan sejuk menyatu di station ini.

Kemi segera mendatangi PPKA (Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api), beliau cukup terkejut dengan kedatangan kami, apalagi setelah kami bercerita bahwa kami adalah penggemar kereta api yang hendak bermalam di station ini dan akan memotret suasana sekitar. Para petugas menyambut kami dengan hangat, bahkan kami dipersilahkan untuk mandi di kamar mandi mereka yang sangat bersih.

Setelah cukup istirahat dan cuaca mulai bersahabat, kami memutuskan untuk memulai hunting session, setelah sebelumnya kami diberikan jadual kereta api yang akan lewat di station itu. Kami berjalan ke arah Timur karena di daerah tersebut, rel kereta api berada persis di sisi pantai utara.

Rel Tepi Pantai

Beberapa kereta api lewat dan kami berhasil memotretnya. Para masinis kereta api tersebut cukup senang dengan kegiatan kami ditandai dengan senyuman serta lambaian tangan dan tidak lupa semboyan 35 dari klakson angin di lokomotive.
Hari hampir senja, dan kami memutuskan kembali ke station untuk memotret suasana sunset di sana. Tapi sayang sebuah kereta api yang jadualnya pas dengan sunset ternyata telat, sehingga kami hanya memotret suasana station saja.

Malamnya setelah mandi, kami melanjutkan night shoot session di sekitar station, kami memutuskan begitu, karena lokasi di sana sangat gelap, sehingga dapat membahayakan kondisi kami dan menyulitkan mencari focus ke object.
Cukup banyak kereta api yang berhenti karena harus bersilangan dengan kereta api lain. Para penumpang cukup heran dengan aktivitas kami di sana dan banyak yang bertanya-tanya dengan kegiatan kami, bahkan ada yang berguman bahwa kami ini edan koq mau-maunya berada di lokasi terpencil… he he he… wong namanya hobby… apa mau dikata.

Masih banyak kereta yang lewat, tetapi tenaga sudah terkuras habis, dan saya memutuskan untuk tidur agar besok pagi dapat mengabadikan sunrise di station plabuan.

Sabtu 18 Maret 2006.
Jam menunjukan pukul 5:00 sebagian teman-teman sedang melaksanakan sholat subuh, lainnya masih tidur dengan lelap. Cuaca saat itu hujan gerimis, wah tidak bakalan dapat sunrise nih… rada kecewa. Mending mandi aja agar kepala tetap dingin.
Jam 7:30 matahari baru keluar dari balik awan dan kami kembali memulai photo hunting.
Lumayan ada 2 kereta api petikemas yang berhasil di photo dan 2 kereta komuter, tapi kami kehilangan 1 kereta argo karena hujan gerimis…. sayang.

Jam 9:00 sambil menyantap mie instant rebus, kami meminta bantuan PPKA agar dapat menghentikan kereta Kaligung Bisnis di Station Plabuan, karena kami akan melanjutkan kegiatan ke Cirebon.
Kereta ini adalah kereta komuter Semarang - Tegal PP. Dan sayangnya kereta ini tidak memiliki jadual berhenti di Station Plabuan.
Kami membeli ticket untuk tujuan Tegal, dan jam 9:30 kereta tersebut datang. Kami bersalaman dengan petugas-petugas di Station Plabuan sebelum naik ke kereta api Kaligung Bisnis.
Masinis Kaligung Bisnis tampaknya cukup hapal dengan kami karena banyak memotret kereta ini, kami disambut oleh mereka saat naik ke kereta. Wah seru sekali, penumpang cukup dibuat bingung dengan kejadian ini.

Jam 11:00 Kereta Api sampai di Station Tegal. Karena tidak ada kereta api yang ke Cirebon saat itu, kami melanjutkan perjalan ke Cirebon dengan menggunakan bus antar kota. Teman-teman menyebutnya dengan Argo Coyo… ada-ada aja…

Sampai di Cirebon, sudah banyak teman-teman dari IRPS yang sudah berkumpul, karena memang kami sedang melakukan sebuah acara dengan DAOP III Cirebon, yaitu kunjungan ke Dipo Traksi Cirebon sekaligus melihat loko diesel CC20015, sebuah loko yang berhasil dihidupkan lagi setelah cukup lama mati.
Loko CC200 adalah seri loko diesel pertama di Indonesia, loko ini saat ini berada di Cirebon dan hanya satu yang masih dapat berfungsi walaupun tidak dapat beroperasi full seperti dahulu lagi.

Loko CC20015 in front of Dip Traksi Cirebon

Kami segera memesan kamar di penginapan, untuk melepas kepenatan dan menyimpan barang bawaan yang cukup berat. Hari ini kami hanya berdiskusi dengan teman-teman dan jajaran PT.KA
Kami juga melakukan night shoot session di sekitar Dipo Traksi Cirebon.
Seperti biasa, gua selalu ngantuk duluan dan kasur di penginapan menjadi sangat nyaman untuk ditiduri, walau jam saat itu menunjukan pukul 22:30.

Minggu 19 Maret 2006
Jam 7:00 pagi bangun, dan ternyata teman-teman yang lain sudah pada mandi dan sarapan roti dari penginapan.
Setelah mandi, kami ngobrol seputar kegiatan photo hunting di Station Plabuah dengan teman-teman yang baru bergabung di Station Cirebon.
Jam 8:00 kami mulai bergerak untuk mencari sarapan, dan tidak lupa melakukan photo session di monumen station Cirebon, yaitu loko uap.
Setelah kenyang motret dan sarapan, kami memulai photo session di dalam Station Cirebon. Teman-teman dengan semangat mencuci loko CC200.
CC200 tampak lebih bersih setelah dicuci oleh teman-teman. Setelah selesai di cuci, kami diberikan kesempatan oleh Kepala Station Cirebon untuk menaiki loko tersebut di seputara Station Cirebon, kami memang tidak diijinkan keluar station karena dapat mengganggu jadual perjalanan kereta api lainnya, tetapi itu tidak mengurangi kegembiraan kami mengendarai loko CC200.

Sampai jam 12:00 siang akhirnya kegiatan selesai dan kami berpamitan dengan jajaran pejabat dan pegawai station dan dipo traksi Cirebon. Wajah ceria tampak dari teman-teman.

IRPS and Friend OF CC200 in front of CC20015

Gua memutuskan kembali ke Jakarta menggunakan Cirebon Express Utama yang akan jalan jam 13:30.. sementara teman-teman lainnya memutuskan untuk lebih lama di Cirebon dan kembali ke Jakarta menggunakan kereta yang lain.
Kami berpamitan dan gua akhirnya sendirian pulang ke Jakarta.
Sialnya gua duduk bersebelahan dengan cowok… dasar sial…. mending gua tidur aja… he he he…
Gua tidur selepas keluar station Cirebon dan bangun ketika kereta api sampai di Station Jatinegara…. aaahhh… segarnya…..

———————————
IRPS: Indonesia Railways Preservation Society
PTKA: PT. Kereta Api (Persero).

No Tags

Motret di Sasaksaat

Sabtu Subuh, 22 July 2006

Setelah cukup lama gua gak jalan-jalan ke Station Kereta Api selain Station Depok Lama, Station Sudirman dan Station Gondang dia… he he he itu jalur gua pergi pulang dari rumah ke kantor.
Kebetulan gua dapet tugas dari kantor pergi ke Bandung. Kesempatan ini gak gua sia-siakan untuk datang ke Station Sasaksaat.
Sabtu subuh gua berangkat ke Sasaksaat setelah sebelumnya jemput temen gua di Terminal Bus Leuwi Panjang.

Sampek di Sasaksaat jam 5:30 dan di sana sudah ada teman-teman dari IRPS yang berangkat dari Jakarta, bahkan ada yang bermalam di sana.

Jalan ke arah terowongan, naik ke perbukitan, turun ke sawah. Memang tempat yang asik untuk melakukan hunting photo. Yang lebih menarik adalah pada waktu week end, jadual Kereta Api Parahyangan menjadi lebih sering, sehingga gak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan object kereta api.

Sasaksaat Train Station

Hunting sampek jam 14:00, akhirnya gua pulang ke Depok bersama satu orang temen gua, sementara yang lain memilih naik kereta api yang kebetulan berhenti di Station Sasaksaat.

Heritage Steam Train in Ambarawa

Jum’at Malam, 2 June 2006
H
ujan gerimis di Gedung Cyber, sementara saya harus segera mengejar Kereta Api Senja Utama Semarang untuk berangkat ke Ambarawa.
Naik ojek melintas jalan jakarta yang macet dalam suasana hujan memang tidak mengasikan, tapi apa boleh buat, ini jalan satu-satunya yang saya tempuh karenaharus segera tiba di Station Jatinegara agar tidak ditinggal si Senja Utama.

Malam ini, saya bersama 7 teman dari IRPS berniat mencoba menikmati perjalanan dengan Kereta Uap di Ambarawa.

Supaya besok pagi fit, saya memutuskan untuk tidur selama perjalanan, wich is gak bisa..karena temen-temen yang ngobrol ngalor ngidul seputar kereta api…zzz.zzz..zzzz..ggrrrgghhhhh…

Sabtu, 3 June 2006
Jam 4:00 subuh, Akhirnya saya tiba di Station Tawang Semarang, perjalan dilanjutkan ke rumah salah seorang teman untuk menumpang mandi, setelah itu melanjutkan perjalanan ke Ambarawa

Jam 7:00 pagi setelah menempuh perjalanan kira-kira 45 menit dari Semarang, kita tiba di Station Ambarawa. Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Station Ambarawa. Lingkungn stasion dipenuhi oleh wisatawan cilik yang sedang melakukan study wisata di sana.

Kita langsung mengabadikan suasana Ambarawa. Pagi itu ada yang istimewa, yaitu loko uap C1218 yang barus saja selesai direstorasi oleh para mekanik depo loko uap Ambarawa. Loko ini telah lebih dari 20 tahun tidak berfungsi, dan pagi ini loko ini akan melakukan ujicoba jalan, wah sesuatu yang menarik.

Jam 9:00 kita berhasil menikmati perjalanan dengan loko C1218, walau hanya sampai Station Jambu, kira-kira 10 KM dari Station Ambarawa. Perjalan tidak dilanjutkan ke Station Bedono, karena C1218 tidak memiliki peralatan untuk jalan di rel bergerigi. Saya rada kecewa, karena perjalanan ke Station Bedono tampaknya batal.

Jam 11:00 tiba-tiba masuk rombongan wisatawan menggunakan rangkaian yang ditarik loko C2503, wah kesempatan untuk sampai ke Station Bedono akhirnya terbuka.
loko C2503 berhenti di Station Jambu untuk bertukar posisi menjadi di belakang rangkaian, hal ini supaya rangkaian kereta dapat didorong ke arah Station Bedono yang melalui jalan menanjak.

Kereta berjalan pelan mengikuti rel bergerigi dan akhirnya sampai ke Station Bedono, buat saya… ini perjalanan yang luar biasa menarik.

C2503

Jam 13:00, saya kembali ke Station Ambarawa dengan rasa puas. Setelah pamit dengan Kepala Station Ambarawa, kita melanjutkan perjalanan melihat Station Tuntang yang sedang direnovasi.
Station Tuntang dapat dilihat dari jalan raya Semarang - Solo di sekitar Rawa Pening, letaknya di sebelah kiri jika berjalan dari arah Semarang.

Kita meneruskan keliling-keliling daerah Ambarawa sampai dengan Losari, kemudian kembali ke Semarang untuk makan malam.

Jam 20:00, saya diantar ke Station Tawang untuk kembali ke Jakarta, niat saya untuk mencoba Harina ke Bandung pupus, karena kereta sudah akan berangkat, sementara itu, saya belum membeli karcisnya.
Akhirnya saya memilih Argo Anggrek yang berangkat jam 12:00 malem…
yang ada, saya nongkrong di Station Tawang selama 4 jam, ngantuk dan capek.. tapi senang.

Kuburan Locomotive

Minggu Malam 7 May 2006
G
ua bersama beberapa rekan punya plan untuk jalan-jalan ke Jogjakarta. Sore-sore gua udah nongkrong di Dipo Lokomotive Jatinegara guna persiapan berangkat ke Jogja.
Sambil nunggu, gua mencoba menu makan malam para masinis, wow enak banget, masakannya rumah banget, nasi putih, sayur lodeh, telur dadar dan tempe bacem… mantab.

Jam 19:00 gua bergegas ke Station Jatinegara untuk beli tiket Kereta Api Senja Utama Jogjakarta.
Udah lebih dari 10 Tahun gua gak pernah naik kereta jenis ini, itung-itung sekalian nostalgia.
Harga karcis ke Jogja adalah 100.000 Rupiah, dulu gua naik karcisnya masih belasan ribu dowang sepertinya dan berangkat dari Gambir pula.

Karena gua berangkat hari Minggu malam, kereta ini cukup sepi tidak seperti waktu week end, bisa mbludak penumpangnya.
Keretanya agak kusam, gak ada AC, tapi di dalamnya cukup bersih alias gak banyak sampah he he he…
Cuman yang manjadi masalah bagi gua, ternyata kursi kereta ini gak enak banget didudukin apalagi buat tidur. Sementara temen-temen gua yang lain sudah berhasil menguasai lantai kereta api untuk tiduran, terpaksa gua yang harus melingker di kursi.

Senen Pagi 8 May 2006
Jam 04:30 Kereta Senja Utama sampek juga di station akhir, Station Tugu Jogjakarta. Ternyata udah ada yang sampek duluan di sana, dan mereka naik Argo Lawu… weleh-weleh.. tahu gitu gua naik Argo Lawu sekalian, jadi pagi-pagi begini gak ngantuk.

Sambil menunggu terang, teman-teman melakukan ritual pagi. Ada yang mandi, buang air dan sholat subuh. Sementara gua milih nerusin tidur di kursi peron yang keras. Sekuat usaha gua untuk bisa tidur, makin gak bisa tidur gua.

Setelah terang, kita pindah ke sebuah penginapan yang disewa rekan dari Cikarang, hmm lumayan gua bisa pup dan mandi…hmmm segar banget.

Jam 07:30 Kita semua check-out dari penginapan itu dan pindah ke penginapan lainnya. Akhirnya dipilih sebuah penginapan yang letaknya berdekatan dengan Balai Yasa Pengok, tempat tujuan kita berkunjung ke Jogjakarta.

Balai Yasa Pengok atau yang sering disebut BY Pengok adalah sebuah bengkel khusus untuk lokomotive diesel, baik diesel-electric maupun diesel-hydorlic. Di tempat itu proses perawatan dan perbaikan lokomotive dikerjakan. Tidak jarang mereka melakukan rebuild terhadap lokomotive yang mengalami kerusakan atau kecelakaan hebat.

Yang menarik dari BY Pengok adalah sebuah lapangan dimana ditempatkan puluhan lokomotive yang sudah tidak layak untuk dijalankan, hal ini akibat sudah tuanya usia lokomotive atau memang sukucadangnya sudah tidak ada.
Lokomotive yang “malang” itu sedang menunggu jadual untuk di rucat (dipreteli).
Sayang memang melihat mesin-mesin itu tidak bisa kembali berjalan melintas di jalur-jalur kereta api kembali, apalagi ada beberapa teman yang dengan nada protes menghendaki seluruh lokomotive itu kembali diaktifkan.
Tapi memang secara ekonomis hal tersebut tidak mungkin dan untuk mengurangi beban, maka terpaksa lokomotive tersebut harus di hancurkan alias di rucat.

Lokomotive Cemetery

Selain itu, kami juga diberi kesempatan untuk melihat suasana kerja di dalam BY Pengok. Dimana mereka melakukan perawatan berkala lokomotive.
Dan kebetulan kami juga melihat sebuah proses rebuild dari dua buah lokomotive yang mengalami kecelakaan hebat di Station Gubuk beberapa minggu sebelumnya.

Jam 14:00 kami mengakhiri kunjungan di BY Pengok, puas juga bisa melihat sesuatu yang baru. Setelah bersalaman dan melakukan photo bersama, kami meninggalkan BY Pengok.
Tidak lupa kami membeli cinderamata yang dijual oleh Koperasi Karyawan BY Pengok.

Kita kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak dan akhirnya sebagian termasuk gua meneruskan ke Station Tugu, untuk kembali ke Jakarta.

Untuk pulang, gua akhirnya memilih naik Argo Dwipangga… aaahhhh asiknya… gua akhirnya bisa tidur lelap di kereta api…zzz…zzz…zzz..zzz..zzzz….

Eksebisi Pertama Kereta Model dan Layout

Setelah hampir sebulan melakukan persiapan, akhirnya acara eksebisi pertama Kereta Api Model dan Layout dibuka, dan gak tanggung-tanggung, Direktur Jenderal Perekeretaapian Departemen Perhubungan RI, Bapak Soemino sendiri yang meresmikan dimulainya acara ini.
Ternyata Pak Soemino adalah juga penggemar berat Kereta Api Model juga.

Acaranya cukup rame, ada Layout HO yang ditampilkan, ukurannya juga lumayan besar, 7 meteran. dan ada Layout N dengan ukuran 2 meteran.

Model Old Fashion Parahyangan

Mumpung hari Minggu, gua ngajak bokin, Theo dan Tressa, Si Theo seperti biasa, lari sana sini. Untung aja gak ngerusak layout yang ada, bisa dimusuhin sama temen-temen kalo sampek kejadian.

www.keretamodel.com