Entries Tagged as 'Locomotive'

Naik kereta api yuk

Naik Kereta Api.. tut..tut.. siapa hendak turut..

Lagu anak-anak yang dahulu mengajak orang untuk naik kereta api, akhirnya menjadi sebuah kenyataan.

Dengan naiknya harga BBM lebih dari 25% pertengahan 2008 ternyata kembali menjadikan Kereta Api sebuah moda transportasi darat primadona.

[Read more →]

Steam Locomotive, Repainting Activity

Hari Minggu 18 November 2007 kemarin bisa jadi sebuah hari yang menurutku cukup memiliki sebuah kesan. Bersama teman-teman railfans yang tergabung dalam Indonesian Railway Preservation Society dan Majalah KA serta mendapat dukungan dari Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah, kita sama-sama melakukan pengecatan ulang  monumen lokomotif uap yang dipajang di sana.

C2710 - Steam Locomotive at Taman Mini Indonesia Indah

C2710 Dahulu melayani rute Jakarta - Rangkasbitung

Pihak Museum mengatakan bahwa lokomotif uap tersebut memang sudah lama tidak dilakukan pengecatan ulang, ada yang mengatakan terakhir dicat ulang adalah di tahun 2000 lalu.

[Read more →]

BB200 sudah 50 tahun

Mungkin banyak yang belum tahu atau tidak peduli dengan sebuah nama BB200, sebuah lokomotif diesel hydrolic keluaran General Motor yang sudah 50 tahun malang melintang di lintasan kereta api khususnya di Jawa.

Hari ini sebenarnya gua harus hadir di Semarang, karena hari ini adalah tepat 50 tahun Lokomotive BB200 berulang tahun (sebenarnya batch terakhir usianya mungkin belum 50 tahun).
Dan seharusnya gua hadir di Semarang untuk bersama teman-teman mencuci sampai bersih loko BB20029 (artinya Lokomotive Type BB200 No Urut 29).

BB200

Yang lebih lucu lagi, kali ini mencuci locomotive koq cewek-cewek, sejak kapan railfans didomonasi perempuan.

Dasar Panitia.

No Tags

Ngecat Cow-Catcher (Boopher)

Sabtu, 30 June 2007, 

Pagi-pagi sudah nangkring ke Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah. Hari ini gua bersama teman-teman IRPS berniat melakukan bhakti sosial ngecat cow-catcher lokomotive uap yang terpajang di sana.

Kenapa cuman cow-cather-nya saja ?
Begitu pertanyaan beberapa orang yang mengetahui kegiatan ini..
Untuk mengecat 1buah lokomotive uap agar “kinclong” dan sesaui seperti aslinya tentu saja dibutuhkan tenaga dan niat yang besar, hari ini kami dengan team terbatas untuk sementara hanya mampu “mewarnai” cow-catcher saja, sehingga dapat kembali berwana merah menyala.

Seharian ngecet, tidak semua koleksi lokomotive uap dapat menikmati repaint yang kami lakukan, keterbatasan jumlah cat dan tenaga memaksa kami menghentikan kegiatan selepas pukul 16:00.
Panas tetapi senang, karena melihat loko-loko tua itu kembali memiliki “gincu” merah menyala.

Thanks for Mighty Bowo for all repainting photos

No Tags

Railfans Comics

 Jika ada kemiripan cerita, wajah, lokasi dan lain sebagainya… ya terima saja…

Railfans Comics

No Tags

Railfan Photo Hunting - Station Plabuan

Jum’at Subuh 17 Maret 2006
B
angun pagi, terus mandi langsung berangkat ke Dipo Traksi Jatinegara. Hari ini memang sengaja bolos masuk kantor karena sudah ada rencana pergi hunting photo ke Station Plabuan di Jawa Tengah.

Total ada enam orang yang berangkat pagi itu, menggunakan Kereta Api Argo Muria, kami turun di Station Pekalongang. Station Plabuan adalah sebuah station kecil sehingga hampir tidak ada kereta api yang memiliki jadual berhenti resmi di sana, apalagi kereta api kelas 1 seperti jajaran kereta argo.
Dari Station Pekalongan kami menumpang Fajar Utama Semarang, dan kami minta bantuan masinisnya untuk dapat menurunkan kami di lokasi terdekat Station Plabuan.
Fajar Utama akhirnya berjalan pelan di lokasi Sinyal Masuk Station Plabuan, dengan hati-hati kami melompat dari kereta api yang berjalan pelan. Kami berteriak mengucapkan terima kasih kepada Masinis yang baik hati dan dibalas dengan semboyan 35 dari lokomotive.

Waktu menunjukan pukul 13:40 ketika kami berjalan lebih kurang 500 meter ke arah Station Plabuan, hari itu panas luar biasa, kepala terus berdenyut-denyut seakan mau pecah. 20 menit kami berjalan menyusuri rel kereta api dan akhirnya sampailah kami di Station Plabuan.

Station Plabuan

Station ini berada di lokasi yang terpencil, tepatnya di pinggir pantai utara, dan bila melalui jalan raya lintas utara, lokasi ini berdekatan dengan daerah Alas Roban, dari jalan raya masih harus berjalan lagi lebih kurang 15Km ke arah pantai.
Perumahan nelayan berada persis di depan station, suara ombak di pantai terdengar dengan jelas dan menjadikan station ini memiliki suasana yang berbeda dengan station lainnya. Sementara dibelakang station daerah perbukitan yang ditutupi oleh pepohonan yang rimbun. Suasana panas dan sejuk menyatu di station ini.

Kemi segera mendatangi PPKA (Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api), beliau cukup terkejut dengan kedatangan kami, apalagi setelah kami bercerita bahwa kami adalah penggemar kereta api yang hendak bermalam di station ini dan akan memotret suasana sekitar. Para petugas menyambut kami dengan hangat, bahkan kami dipersilahkan untuk mandi di kamar mandi mereka yang sangat bersih.

Setelah cukup istirahat dan cuaca mulai bersahabat, kami memutuskan untuk memulai hunting session, setelah sebelumnya kami diberikan jadual kereta api yang akan lewat di station itu. Kami berjalan ke arah Timur karena di daerah tersebut, rel kereta api berada persis di sisi pantai utara.

Rel Tepi Pantai

Beberapa kereta api lewat dan kami berhasil memotretnya. Para masinis kereta api tersebut cukup senang dengan kegiatan kami ditandai dengan senyuman serta lambaian tangan dan tidak lupa semboyan 35 dari klakson angin di lokomotive.
Hari hampir senja, dan kami memutuskan kembali ke station untuk memotret suasana sunset di sana. Tapi sayang sebuah kereta api yang jadualnya pas dengan sunset ternyata telat, sehingga kami hanya memotret suasana station saja.

Malamnya setelah mandi, kami melanjutkan night shoot session di sekitar station, kami memutuskan begitu, karena lokasi di sana sangat gelap, sehingga dapat membahayakan kondisi kami dan menyulitkan mencari focus ke object.
Cukup banyak kereta api yang berhenti karena harus bersilangan dengan kereta api lain. Para penumpang cukup heran dengan aktivitas kami di sana dan banyak yang bertanya-tanya dengan kegiatan kami, bahkan ada yang berguman bahwa kami ini edan koq mau-maunya berada di lokasi terpencil… he he he… wong namanya hobby… apa mau dikata.

Masih banyak kereta yang lewat, tetapi tenaga sudah terkuras habis, dan saya memutuskan untuk tidur agar besok pagi dapat mengabadikan sunrise di station plabuan.

Sabtu 18 Maret 2006.
Jam menunjukan pukul 5:00 sebagian teman-teman sedang melaksanakan sholat subuh, lainnya masih tidur dengan lelap. Cuaca saat itu hujan gerimis, wah tidak bakalan dapat sunrise nih… rada kecewa. Mending mandi aja agar kepala tetap dingin.
Jam 7:30 matahari baru keluar dari balik awan dan kami kembali memulai photo hunting.
Lumayan ada 2 kereta api petikemas yang berhasil di photo dan 2 kereta komuter, tapi kami kehilangan 1 kereta argo karena hujan gerimis…. sayang.

Jam 9:00 sambil menyantap mie instant rebus, kami meminta bantuan PPKA agar dapat menghentikan kereta Kaligung Bisnis di Station Plabuan, karena kami akan melanjutkan kegiatan ke Cirebon.
Kereta ini adalah kereta komuter Semarang - Tegal PP. Dan sayangnya kereta ini tidak memiliki jadual berhenti di Station Plabuan.
Kami membeli ticket untuk tujuan Tegal, dan jam 9:30 kereta tersebut datang. Kami bersalaman dengan petugas-petugas di Station Plabuan sebelum naik ke kereta api Kaligung Bisnis.
Masinis Kaligung Bisnis tampaknya cukup hapal dengan kami karena banyak memotret kereta ini, kami disambut oleh mereka saat naik ke kereta. Wah seru sekali, penumpang cukup dibuat bingung dengan kejadian ini.

Jam 11:00 Kereta Api sampai di Station Tegal. Karena tidak ada kereta api yang ke Cirebon saat itu, kami melanjutkan perjalan ke Cirebon dengan menggunakan bus antar kota. Teman-teman menyebutnya dengan Argo Coyo… ada-ada aja…

Sampai di Cirebon, sudah banyak teman-teman dari IRPS yang sudah berkumpul, karena memang kami sedang melakukan sebuah acara dengan DAOP III Cirebon, yaitu kunjungan ke Dipo Traksi Cirebon sekaligus melihat loko diesel CC20015, sebuah loko yang berhasil dihidupkan lagi setelah cukup lama mati.
Loko CC200 adalah seri loko diesel pertama di Indonesia, loko ini saat ini berada di Cirebon dan hanya satu yang masih dapat berfungsi walaupun tidak dapat beroperasi full seperti dahulu lagi.

Loko CC20015 in front of Dip Traksi Cirebon

Kami segera memesan kamar di penginapan, untuk melepas kepenatan dan menyimpan barang bawaan yang cukup berat. Hari ini kami hanya berdiskusi dengan teman-teman dan jajaran PT.KA
Kami juga melakukan night shoot session di sekitar Dipo Traksi Cirebon.
Seperti biasa, gua selalu ngantuk duluan dan kasur di penginapan menjadi sangat nyaman untuk ditiduri, walau jam saat itu menunjukan pukul 22:30.

Minggu 19 Maret 2006
Jam 7:00 pagi bangun, dan ternyata teman-teman yang lain sudah pada mandi dan sarapan roti dari penginapan.
Setelah mandi, kami ngobrol seputar kegiatan photo hunting di Station Plabuah dengan teman-teman yang baru bergabung di Station Cirebon.
Jam 8:00 kami mulai bergerak untuk mencari sarapan, dan tidak lupa melakukan photo session di monumen station Cirebon, yaitu loko uap.
Setelah kenyang motret dan sarapan, kami memulai photo session di dalam Station Cirebon. Teman-teman dengan semangat mencuci loko CC200.
CC200 tampak lebih bersih setelah dicuci oleh teman-teman. Setelah selesai di cuci, kami diberikan kesempatan oleh Kepala Station Cirebon untuk menaiki loko tersebut di seputara Station Cirebon, kami memang tidak diijinkan keluar station karena dapat mengganggu jadual perjalanan kereta api lainnya, tetapi itu tidak mengurangi kegembiraan kami mengendarai loko CC200.

Sampai jam 12:00 siang akhirnya kegiatan selesai dan kami berpamitan dengan jajaran pejabat dan pegawai station dan dipo traksi Cirebon. Wajah ceria tampak dari teman-teman.

IRPS and Friend OF CC200 in front of CC20015

Gua memutuskan kembali ke Jakarta menggunakan Cirebon Express Utama yang akan jalan jam 13:30.. sementara teman-teman lainnya memutuskan untuk lebih lama di Cirebon dan kembali ke Jakarta menggunakan kereta yang lain.
Kami berpamitan dan gua akhirnya sendirian pulang ke Jakarta.
Sialnya gua duduk bersebelahan dengan cowok… dasar sial…. mending gua tidur aja… he he he…
Gua tidur selepas keluar station Cirebon dan bangun ketika kereta api sampai di Station Jatinegara…. aaahhh… segarnya…..

———————————
IRPS: Indonesia Railways Preservation Society
PTKA: PT. Kereta Api (Persero).

No Tags

Motret di Sasaksaat

Sabtu Subuh, 22 July 2006

Setelah cukup lama gua gak jalan-jalan ke Station Kereta Api selain Station Depok Lama, Station Sudirman dan Station Gondang dia… he he he itu jalur gua pergi pulang dari rumah ke kantor.
Kebetulan gua dapet tugas dari kantor pergi ke Bandung. Kesempatan ini gak gua sia-siakan untuk datang ke Station Sasaksaat.
Sabtu subuh gua berangkat ke Sasaksaat setelah sebelumnya jemput temen gua di Terminal Bus Leuwi Panjang.

Sampek di Sasaksaat jam 5:30 dan di sana sudah ada teman-teman dari IRPS yang berangkat dari Jakarta, bahkan ada yang bermalam di sana.

Jalan ke arah terowongan, naik ke perbukitan, turun ke sawah. Memang tempat yang asik untuk melakukan hunting photo. Yang lebih menarik adalah pada waktu week end, jadual Kereta Api Parahyangan menjadi lebih sering, sehingga gak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan object kereta api.

Sasaksaat Train Station

Hunting sampek jam 14:00, akhirnya gua pulang ke Depok bersama satu orang temen gua, sementara yang lain memilih naik kereta api yang kebetulan berhenti di Station Sasaksaat.

Kuburan Locomotive

Minggu Malam 7 May 2006
G
ua bersama beberapa rekan punya plan untuk jalan-jalan ke Jogjakarta. Sore-sore gua udah nongkrong di Dipo Lokomotive Jatinegara guna persiapan berangkat ke Jogja.
Sambil nunggu, gua mencoba menu makan malam para masinis, wow enak banget, masakannya rumah banget, nasi putih, sayur lodeh, telur dadar dan tempe bacem… mantab.

Jam 19:00 gua bergegas ke Station Jatinegara untuk beli tiket Kereta Api Senja Utama Jogjakarta.
Udah lebih dari 10 Tahun gua gak pernah naik kereta jenis ini, itung-itung sekalian nostalgia.
Harga karcis ke Jogja adalah 100.000 Rupiah, dulu gua naik karcisnya masih belasan ribu dowang sepertinya dan berangkat dari Gambir pula.

Karena gua berangkat hari Minggu malam, kereta ini cukup sepi tidak seperti waktu week end, bisa mbludak penumpangnya.
Keretanya agak kusam, gak ada AC, tapi di dalamnya cukup bersih alias gak banyak sampah he he he…
Cuman yang manjadi masalah bagi gua, ternyata kursi kereta ini gak enak banget didudukin apalagi buat tidur. Sementara temen-temen gua yang lain sudah berhasil menguasai lantai kereta api untuk tiduran, terpaksa gua yang harus melingker di kursi.

Senen Pagi 8 May 2006
Jam 04:30 Kereta Senja Utama sampek juga di station akhir, Station Tugu Jogjakarta. Ternyata udah ada yang sampek duluan di sana, dan mereka naik Argo Lawu… weleh-weleh.. tahu gitu gua naik Argo Lawu sekalian, jadi pagi-pagi begini gak ngantuk.

Sambil menunggu terang, teman-teman melakukan ritual pagi. Ada yang mandi, buang air dan sholat subuh. Sementara gua milih nerusin tidur di kursi peron yang keras. Sekuat usaha gua untuk bisa tidur, makin gak bisa tidur gua.

Setelah terang, kita pindah ke sebuah penginapan yang disewa rekan dari Cikarang, hmm lumayan gua bisa pup dan mandi…hmmm segar banget.

Jam 07:30 Kita semua check-out dari penginapan itu dan pindah ke penginapan lainnya. Akhirnya dipilih sebuah penginapan yang letaknya berdekatan dengan Balai Yasa Pengok, tempat tujuan kita berkunjung ke Jogjakarta.

Balai Yasa Pengok atau yang sering disebut BY Pengok adalah sebuah bengkel khusus untuk lokomotive diesel, baik diesel-electric maupun diesel-hydorlic. Di tempat itu proses perawatan dan perbaikan lokomotive dikerjakan. Tidak jarang mereka melakukan rebuild terhadap lokomotive yang mengalami kerusakan atau kecelakaan hebat.

Yang menarik dari BY Pengok adalah sebuah lapangan dimana ditempatkan puluhan lokomotive yang sudah tidak layak untuk dijalankan, hal ini akibat sudah tuanya usia lokomotive atau memang sukucadangnya sudah tidak ada.
Lokomotive yang “malang” itu sedang menunggu jadual untuk di rucat (dipreteli).
Sayang memang melihat mesin-mesin itu tidak bisa kembali berjalan melintas di jalur-jalur kereta api kembali, apalagi ada beberapa teman yang dengan nada protes menghendaki seluruh lokomotive itu kembali diaktifkan.
Tapi memang secara ekonomis hal tersebut tidak mungkin dan untuk mengurangi beban, maka terpaksa lokomotive tersebut harus di hancurkan alias di rucat.

Lokomotive Cemetery

Selain itu, kami juga diberi kesempatan untuk melihat suasana kerja di dalam BY Pengok. Dimana mereka melakukan perawatan berkala lokomotive.
Dan kebetulan kami juga melihat sebuah proses rebuild dari dua buah lokomotive yang mengalami kecelakaan hebat di Station Gubuk beberapa minggu sebelumnya.

Jam 14:00 kami mengakhiri kunjungan di BY Pengok, puas juga bisa melihat sesuatu yang baru. Setelah bersalaman dan melakukan photo bersama, kami meninggalkan BY Pengok.
Tidak lupa kami membeli cinderamata yang dijual oleh Koperasi Karyawan BY Pengok.

Kita kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak dan akhirnya sebagian termasuk gua meneruskan ke Station Tugu, untuk kembali ke Jakarta.

Untuk pulang, gua akhirnya memilih naik Argo Dwipangga… aaahhhh asiknya… gua akhirnya bisa tidur lelap di kereta api…zzz…zzz…zzz..zzz..zzzz….

Railfans Photo Hunting at Cisomang Valley

Setelah mendapat info mau ada photo hunting di jalur kereta api Purwakarta-Bandung, gua langsung nyiapin kamera dan perangkat lainnya di depan kamar.
Pagi-pagi nyetater mobil… nambah air radiator.. pamit bokin terus cabut… brummmmm….
Ketemu temen-temen di Indomobil MT.Haryono (Pancoran ke arah Cawang) dan tepat jam 07:00 langsung bergerak ke Jembatan Cisomang….

Hampir 1 jam melalui tol Cikampek-Cipularang, keluar di exit Jatiluhur menuju Cisomang melalui Plered, agak macet.. biasa Pasar Plered dipenuhi Truck Tronton, Ojek, Delman, Angkot dan Orang.. he he he… 20 menit stack di pasar…. walah bisa kehilangan banyak moment nih.

Sempet mampir ke rumah salah satu teman, sebelum akhirnya sampek ke Jembatan Cisomang pada pukul 09:30 WIB.

Katanya ini jembatan kereta api dengan bentang tertinggi di Indonesia.. ketinggian dari dasar lembah Cisomang lebih dari 100 meter..
dan asiknya lagi ternyata disitu ada 2 jembatan yaitu yang baru dan yang lama (peninggalan Belanda)

Cisomang Bridge

Motret situasi Jembatan sekalian nungguin kereta api lewat, waaak.. ternyata tripod gua ketinggalan di depan kamar… aduh ini gara-gara buru-buru waktu berangkat, topi ketinggalan juga.. wah bisa berpanas-panas nih gua… tapi untungnya jas ujan ada di mobil.. jadi gak ketinggalan.

Kemudian ada ide untuk turun ke dasar lembah Cisomang, tanpa banyak ba bi bu langsung turun ke dasar lembah. Kira-kira butuh waktu 20 menit untuk turun sampai ke dasar lembah.
Main air sekalian ngerendem kaki yang panas, tidak lupa motret sana sini.
Karena di hulu tampaknya sedang mendung, akhirnya kita sepakat untuk naik, menurut orang sekitar, jika di hulu hujan, maka akan timbul air bah di sekitar kaki jembatan. Daripada kita keseret air mending naik aja kali ya.
Kita mendaki ke atas dari sisi lain lembah, dan ternyata mendaki adalah pekerjaan yang melelahkan.. ha ha ha… butuh hampir 1 jam untuk naik ke atas. Berkali-kali berhenti menghela nafas panjang. Memang usia tidak dapat dibohongi, mana nenteng tas kamera pula… tapi yang penting senang.

Sampai ke atas kita menanti kereta api yang akan lewat untuk difoto-foto. Tapi dari waktu sampai sampai menjelang tengah hari, hanya 3 kereta yang lewat itu semua dari arah Bandung dan satu Kereta Crane.

Akhirnya kita bergerak ke Station Cisomang, jaraknya sekitar 3km dari Jembatan. Sampai di sana kita mendapatkan khabar bahwa ada kereta yang anjlok, jadi seluruh jadual kereta api menjadi berantakan.
Pantesan dari tadi gak ada kereta api yang lewat.

Setelah puas ngobrol dengan Bapak-bapak petugas di Station dan motret sana-sini, akhirnya kita putuskan untuk ke Station Sasaksaat. Rencananya kita mau motret di Terowongan Sasaksaat dan Jembatan Cikubang.

Kita konvoi melalui jalan Propinsi, ternyata jalan itu sekarang sepi dan halus, lebih nyaman daripada jalan tol Cipularang.
Jarak ke Station Sasaksaat dari Station Cisomang kurang lebih 30 km.

Sampek di Station Sasaksaat cuaca mendung, wah bisa berantakan nih jadual motret, kita bergegas ke arah Terowongan dan byuuuurrrr hujan langsung mengguyur. Untung saja ada pos penjaga terowongan, jadi kita dapat berteduh di sana.

Sasaksaat Tunnel

Setelah 2 jam berteduh sekaligus motret dan video shooting, akhirnya hujan berhenti, lumayan juga mendapat foto-foto dan video yang menarik di situ. Contohnya adalah berhasil merekam Kereta Api Argo Lawu yang terpaksa harus lewat jalur Bandung akibat ada kereta yang anjlok di Jatibarang.

Kira-kira jam 17:00 kita pergi ke rumah makan untuk makan dan setelah makan, rombongan terbagi 2 ada yang pulang ada yang bermalam di Station Sasaksaat.
Gua harus pulang karena hari minggu ada banyak kerjaan, sayang memang gak bisa nginep, lain kali pasti nginep dan di station yang lain.
Ternyata mengasyikan melakukan kegiatan seperti ini, hitung-hitung sebagai penyaluran hobby….

No Tags

Nyetir Locomotive

Hari minggu 30 Oktober 2005, ngajak Theo lagi jalan-jalan ke Dipo Lokomotive Jatinegara.

Theo infront of CC203 38

Kebetulan teman-teman dari IRPS ( Indonesian Railways Preservation Society ) di sana, jadi bisa lihat-lihat lokomotive, malah sempet diajarin untuk nyalain lokomotive dan ‘nyetir’ lokomotive walaupun cuman maju sama mundur di pelataran depo.

Theo Drive CC203 19

Lantai Dipo JNG yang penuh dengan oli bikin Theo jadi blepotan oli di celana, dan bruk… jatuh kepleset pula jadi tambah kotor.
Yang ada setelah dia mulai ngantuk dan minta di gendong, dan akhirnya seluruh kaos dan celana gua ikutan blepotan kena oli… hi hi hi bakalan susah hidup gua nih harus nyuci, karena seluruh pembantu pulang kampung.

Theo at CC203

No Tags