Entries Tagged as 'Everyday'

Fun with home-made budget

Setelah didera kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, akhirnya saya menerima dampaknya juga. Bukan berarti kemarin tidak berdampak, tetapi pada titik ini, ternyata saya harus melakukan perubahan anggaran belanja negara rumah tangga.

Sebelum mencanangkan anggaran belanja yang baru, ada beberapa hal yang saya coba lakukan, yaitu:

Lebih focus dalam menyiapkan tabungan
Saya coba untuk selalu menabung dari setiap penghasilan bulanan yang kadang ada kadang enggak. Tidak ada percentage yang ditetapkan, tetapi yang penting selalu ada yang disihkan (bukan disisakan) untuk disimpan.

Saya akhirnya berhasil membuka account baru yang tidak dilengkapi ATM untuk menjaga dana yang tersimpan.

Mengurangi pengeluaran gak penting
Sudah lama gak karaoke (kecuali ditraktir) dan golf. Kemana-mana bawa minum air putih sendiri dan berhenti merokok. Setidaknya ada sesuatu yang dihemat.

Pake uang cash
Setiap minggu selalu menyediakan uang cash yang kira-kira cukup digunakan untuk semua kebutuhan rumah tangga selama satu minggu. Mengurangi penggunaan ATM untuk membayar, selain berpotensi lebih boros, isi account di ATM juga gak banyak-banyak banget.

Lunasi utang kartu kredit
Punya kartu kredit memang berasa gaya, kemana-mana tinggal gesek. Saya akhirnya berhasil melunasi hutang di kartu kredit yang untungnya tidak banyak. Selain mengurangi kewajiban, juga menghindari telepon dari debt collector yang sok galak.
Kalo punya lebih dari satu kartu kredit, mending tutup aja dan pilih salah satu yang paling banyak ngasih bonus dan cash back rewards.

Analisa setiap pengeluaran
Saya mencoba menganalisa pengeluaran saya setiap minggunya. Dulu waktu masih kerja kantoran, pengeluaran paling besar adalah transport. Saya selalu menggunakan sepeda motor untuk pergi ke stasion kereta api dan naik kereta api ke jakarta, kemudian jalan kaki ke kantor (kalo kantornya deket stasion).
Pengeluaran saya yang terbanyak adalah membeli makanan dan minuman.

Sementara untuk pengeluaran untuk internet dan telepon masih dapat dijaga, karena kedua fitur itu adalah perangkat kerja saya saat ini.

Simpan setiap tanda terima
Dengan menyimpan tanda terima, saya berusaha menemukan selisih harga-harga barang dari waktu ke waktu. Tujuannya agar saya memiliki referensi sumber termurah untuk setiap barang yang saya butuhkan.

Flexibel
Walau sudah dijaga kiri kanan atas bawah, saya masih dapat secara flexibel untuk melebihi anggaran belanja. Tetapi saya juga punya konsekwensi untuk memperbaiki di waktu berikutnya. Yang penting seluruh pengeluaran (expense) tidak terpaut jauh dengan anggaran belanja yang telah saya buat sendiri.

Oh iya, komponen paling penting dalam pembuatan anggaran belanja selain perencanaan adalah income alias pemasukan, jadi tanpa pemasukan, ya gak ada anggaran belanja.

*gambar dari google

Iklan di atas pos polisi

Setiap hari melintas di kawasan Slipi, ada sebuah pemandangan yang menarik. Pos Polisi yang baru dan tepat diatasnya ada LED Display yang menyuguhkan iklan rokok Djarum. Seru juga, revitalisasi pos polisi dibantu dengan pemasangan iklan. Teman-teman yang biasa bermain di dunia periklanan, menyebutnya dengan co-branding.

pos polisi pake iklan di slipi

Untung cuma pos polisi yang dikasih iklan, asalkan jangan polisi atau polwannya yang ditempelin logo rokok Djarum kayak pemain sepak bola

Sudah pasti, letak pos polisi akan berada di tempat yang strategis, karena mereka harus dapat memantau ke segala arah dan pos polisi juga harus mudah ditemukan oleh banyak orang. Jadi para pemasang iklan pasti berlomba untuk mendapatkan posisi yang sama dengan mereka.

Ada rekan yang mengatakan bahwa itu hanya akal-akalan saja dalam mencari uang. Bagi saya, selama tidak ada peraturan yang dilanggar, artinya sah. Mungkin lebih baik jika anggaran kepolisian diberikan untuk meningkatkan SDM, sementara ada swasta yang ingin memperbaiki pos-pos polisi yang ada dengan embel-embel memasang iklan.

Dari arah Depok menuju TB.Simatupang (JORR), ternyata ada juga pos polisi plus iklan yang baru dibangun, lokasinya juga sangat strategis, tetapi buatku yang ini strategis bagi pemasang iklan, karena setiap kendaraan dari arah Depok dapat melihat iklan yang dipajang, sementara bagi polisi lokasi itu hanya dapat memantau pergerakan kendaraan saja, karena bukan perempatan atau simpangan.

Iklan Jarum di Tanjung Barat

Tetapi yang jelas semua pihak diuntungkan, polisi untung, pemasang iklan juga untung, masyarakat juga gak diminta saweran untuk bangun pos.

Air Pollution in Jakarta

The UNCCC session in Bali finally ended with an agreement called Bali Road Map. The agreement may force every country in the world to responsible about global warming phenomena. For me it is very-very technical, and I don’t have any idea how the government in the entire worlds will do that.

As day before, this morning, I see city of Jakarta from my office in 18th floors. Everyday I mention theres is a thick fog over the Jakarta’s Golden Triangle. Is that so many carbons in Jakarta’s air ?

Almost everyday I go to my office using train and following by bus. Starting from my house in Depok, I always get a cold and fresh air in the morning, some times there is a white fog covering my house. Then 29 km apart from my house, is the 180 degree different environment than my house. Jakarta is once of the worst air pollution city in the world.

jakarta pollution

Money deposit at dashboard

Sepertinya sudah menjadi sebuah peraturan tidak tertulis, setiap hari gajian bagi seorang suami pasti akan memberikan hasil kerja kerasnya sebulan penuh kepada istrinya. Tetapi apakah harus semua ? bisa tidak, tetapi mengapa harus iya.
Sepertinya bagi orang yang sudah membina rumah tangga, urusan keuangan menjadi sebuah masalah yang gampang-gampang susah. Saat masih hidup sendiri, seakan tidak ada beban untuk membelanjakan semua penghasilan untuk sesuatu yang disenangi.
Saat pertama kali kerja dulu, begitu mendapat gaji pertama, seluruh gaji habis dibelikan walkman di Blok M, hanya tersisa ongkos pulang ke rumah naik metromini S75, sementara ongkos ke kantor masih disubsidi orang tua.

[Read more →]

Happiest Family in JAKK

Wah station segini besar, orang segini banyak, tapi sepertinya ndak ada yang dari Jogja“, suara dengan logat Jogjanya yang kental tiba-tiba terdengar di belakang gua.
Ya, sore ini, dan seperti biasa, gua menunggu KRL Depok Express jam 19:00 yang selalu telat sampai di station kota.

Mas, koq ndak naik ke KRL ini ?” tiba-tiba suara yang sama menyapa ramah ke gua. Secara otomatis gua nengok ke orang yang barusan berbicara, “Sampean ngomong dengan saya mas ?” tanya gua.
Iya mas, koq ndak naik ke KRL ini ?” tanyanya sekali lagi.
Memang saat itu baru saja masuk KRL Pakuan Express tujuan Bogor yang juga ketularan telat…
Enggak mas, saya naik yang KRL Depok” gua jawab sekenanya.
Wah, mas tinggal di Depok ya ?, saya tadi kesana keliling-keliling cari teman tapi enggak ketemu alamatnya” orang itu tampaknya ingin memulai percakapan.

Akhirnya gua ngobrol sama dia, ngalor-ngidul, sampai akhirnya gua tanya, kenapa dia jauh-jauh dari Jogja malah lesehan di Station Jakarta Kota, dengan keluarganya sekalian.
Jangan-jangan di juga railfans.

Mas, Kenapa sih jauh-jauh dari Jogja, koq njenengan malah plesiran di Station Kota, malem-malem pula” gua coba tanya ingin tahu.
Sebenarnya kami di Jakarta sudah 2 hari, setelah keliling-keliling lihat monas, naik busway, naik waterway dan tadi pagi kami berencana jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor“…
Tetapi, saat di KRL Ekonomi yang kami tumpangi dari Station Gondangdia, dompet saya dicopet” katanya tanpa ada nada penyesalan di kalimatnya.

Sejenang gua berpikir, ini adalah penipu yang sering berkeliaran di Station untuk meminta uang dengan alasan dia baru saja dicopet.
Tiba-tiba istrinya ikut menimpali, bahwa uangnya habis tinggal yang ada di tas istrinya saja. Dan mereka sudah mengontak adiknya di Jogja untuk menjemput ke Jakarta dan akan berjumpa di Station Jakarta Kota.
Gua cuman ngangguk saja, dan menunggu saat-saat dia mengucapkan kata-kata untuk minta uang.

Ngobrol 10 menit lebih, satupun kata minta uang tidak pernah terucap. Sejenak saya perhatikan 3 orang anaknya yang bercanda sambil tiduran beralas koran di peron antara jalur 10 dan 9.
Tidak ada wajah sedih di anak-anak tersebut, Sang istri bahakan ikutan bercengkrama dengan mereka.

Mas, njenengan mau tidur di mana malam ini ?” gua tanya saja, karena sebelumnya diumumkan bahwa KRL Depok Express sudah melewati Station Gambir menuju Station Kota.
Kami, malam ini tidur di depan Wartel Station, yang punya wartel sudah mengijinkan” jawabnya.
ooo.. begitu, hati-hati saja mas, di sini cukup rawan, jika mau njenengan tidur di ruang exekutif saja, nanti saya mintakan ke Pak Kepala Station“.. gua coba menawarkan solusi.
Ndak papa koq mas, kami di wartel saja

Jam 19:45 WIB, akhirnya KRL Depok Express tiba di Station Kota, dasyat 1 jam telatnya.
Gua pamit untuk pulang ke rumah, “Duluan ya mas, hati-hati di sini ya”.
Dari dalam gerbong 2, gua melihat mereka tetap ceria, sang ayah berusaha tetap membuat anak-anaknya nyaman walau harus lesehan di peron. sang Istri tetap mendukung si ayah tanpa secuilpun kata-kata penyesalan yang keluar dari mulutnya. Ketiga anaknya masih bermain sambil mendengar cerita si ayah.

Jam 19:50 WIB, KRL Depok Express perlahan meninggalkan station kota, gua tetap melihat mereka bercengkrama di peron.
Sambil berusaha memejamkan mata, gua mencoba-coba mengingat semua percakapan tadi, dan tidak ada satu kalimatpun yang mereka ucapkan untuk memohon bantuan apapun.

This night I found another happy family ?.

pf: JAKK - Jakarta Kota Railway Station

No Tags

Way to go to the Office

Dulu pertama kali mulai kerja, berangkat ke kantor dari rumah, menggunakan kereta KRL Ekonomi, naik dari Station Pasar Minggu dan turun di Station Juanda. Setelah itu kemudian nyambung PPD dan Metromini untuk sampai ke kantor di wilayah Sunter Agung. Capek memang, tetapi cepat dan murah, plus keringetan.

Kemudian pindah ke perusahaan baru, tetap berangkat dengan menggunakan kereta KRL Ekonomi yang berangkat dari Station Pasar Minggu kemudian turun Station Gondangdia. Setelah itu jalan kaki sampai ke kantor, cukup dekat karena berada di kawasan Kebon Sirih.

Lama berselang kereta KRL mulai ditinggalkan karena semakin penuh dengan pelayanan semakin menurun, jadi setiap hari pergi pulang kantor menggunakan mobil pribadi (sebenarnya mobilnya ayah).

Setelah menikah dan tinggal di Depok, kebiasaan lama naik kereta api mulai terasa kembali. Dari Station Depok (lama), naik KRL Depok Express, walau tiketnya lebih mahal dari KRL Ekonomi, yaitu Rp.9000 vs Rp.150, naik KRL Depok Express cukup nyaman karena dilengkapi AC dan tidak berhenti pada setiap station.

Jika harus ke kawasan Kebon Sirih, berangkat menggunakan KRL Depok Express (jam 06:25, 07:12, 08:00) dan turun di Station Gondangdia, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki.
Tetapi bila harus bertugas di kawasan Mampang Prapatan, berangkat menggunakan KRL Depok Express Tanah Abang(jam 06:35, 07:46, 08:25) kemudian turun di Station Sudirman / Dukuh Atas, kemudian setelah itu disambung dengan Metromini 640 turun di Gatsu atau menggunakan Busway TransJakarta dari halte Latuharhary dan turun di halte Mapang Prapatan.

Sekarang sudah pindah perusahaan kembali, kendaraan andalan dari Depok buatku ya tetap saja KRL Depok Express, last-mile nya saja yang diatur, jika ke kawasan Kebon Sirih ya turun di Station Gondangdia, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki.
Apabila ke kawasan Slipi, turun di Station Sudirman, kemudian dilanjutkan dengan menumpang bus kota PPD 213 arah ke Grogol.
Dan jika harus ke kawasan Tanjung Duren, setelah turun dari bus kota yang ke Grogol, ya sambung lagi dengan metro mini dan ditambah jalan kaki.

Jangan lupa setiap hari setidaknya harus berjalan 10,000 langkah, supaya sehat