3

Busway Koridor III

“Bang ! santai aja !!” teriak penjaga pintu (kondektur, kernet) busway koridor III saat hampir terjerembab saat gua dorong.
Ya tentu saja gua dorong, karena sudah 30 menit nunggu dan ada 3 bus yang kosong dan hanya lewat saja di halte Pademangan, Grogol.

“Kenapa Lu? Ngapain teriak-teriak gitu ?” Gua tanya dengan santai sambil mencoba tidak terbawa emosi.
“Jangan dorong gitu dong” Si kernet coba menjawab.
“Mas kernet yang baik, gua sudah 30 menit nunggu, terus ada 3 bus kosong melompong yang gak mau berhenti, penumpang saja antri sampek ke tangga masuk halte. Terus elu minta gua nunggu lagi ?” gua coba ngeles.

Si kernet tampak bingung harus menjawab apa, dia tampaknya sudah menyerah.
“ya sudah abang yang pinter, saya yang bodoh” Si kernet tiba-tiba menyerah.
“Nah gitu dong, ngaku. Mangkannya lain kali kalo bus masih lowong masukin yang banyak saja. Toh ini halte terakhir dan semua bakalan turun di Harmoni” Gua mencoba menekan mentalnya.

Gua sengaja enggak pindah dari hadapan sang kondektur, padahal sore itu busway koridor III yang gua tumpangi masih cukup lowong.

Tiba di Tomang, kejadian di jalur busway makin parah lagi. Jalur dari harmoni ke arah tomang sudah penuh diisi oleh mobil pribadi (ini akibat kecerdasan Pak Polantas dan Pak Dishub yang diatas rata-rata monyet). Akibatnya seluruh busway dari arah harmoni mengambil jatah jalur busway arah sebaliknya (istilah di kereta api adalah menggunakan spoor salah).
Ujung-ujungnya busway yang gua tumpangi harus berbaur dengan jalur reguler dengan bonus macet total.

Gua rada heran saja dengan pola pengaturan busway oleh trans jakarta. Mengapa mereka tidak mau mengikuti polanya PT.Kereta Api (persero) dalam mengatur perjalan kereta api yang menggunakan 1 jalur.

Pada ruas padat, sehingga busway harus tertahan oleh kendaraan pribadi, bajaj, angkot, metromini, PPD dan sepeda motor. Sebaiknya diterapkan sistem persilangan dengan pengaturan perjalanan secara bergantian.
Tidak perlu pake sistem signal seperti di kereta api. Cukup pake radio yang ada di bus dan para petugas di lapangan.

penerapan pengaturan ala kereta api untuk busway

Gua yakin sistem silangan seperti model kereta api, akan lebih efektif bagi perjalanan busway dengan jalur-jalur yang sering diserobot oleh kendaraan non busway.

Untung saja, KRL Depex jam 18:56 yang berangkat dari Station Jakarta Kota, sedikit terlambat. Jadi gua masih bisa pulang ke Depok dengan cukup nyaman.

Hedwigus

3 Comments

  1. hi hi hi hi…..
    pa lagi sekarang… naik TJ ma aja kayak naik KRL ekonomi, dah di haltenya kayak ikan asin di epet-empet saking penuhnya, dah gitu bus dateng paling ngangkut 5-7 orang karena dah penuh dari mana gitu padahal itui halte awal pemberangkatan…contohnya di kota, harmoni, dll, kalo di senen wajar, kampung melayu wajar, tapi ni kok halte pemberangkatan awal dah penuh, pada naik dari mana ya meraka? pengalaman gak enak dari kota-kampung melayu 4 jam lebih….heran!!!!
    pokoknya gak da bedanya naik bus kota ma “bis bae”…. Tj oh TJ….. kacian….

  2. hai abang yang pinter….
    bang, tau alamat website daftar kondektur trans jkt ga?
    Soalnya,
    waktu pertama kali naik busway,
    ada kernet yg (hurup depannya ga kebaca) xxfi ds
    Orgnya c cakep bang! cakeeep bener!
    tapi dia udah ampir nyelakain anak kecil noh!
    buseet!
    untung cuma maenan tuh anak aja yg jatoh! Coba kalo anaknya!
    Ckckckckc…..
    Selain alesan ‘cakep’nya,
    aku emang mau liat aja orgnya yang mana….
    bales ya bang!
    -ecclairst

Tinggalkan pesan kamu