Entries Tagged as ''

Sepeda Motor Lunas

Seperti biasa, setiap malam libur, hampir pasti saya pasti nangkring di pos security yang tidak jauh dari rumah. Sambil minum kopi, ngobrol ngalor ngidul dengan security yang kebetulan dinas di pos tersebut.

Jam menunjukan pukul 21:00 ketika saya keluar rumah menuju pos security. Sudah pasti ada seorang satpam yang dinas jaga di pos tersebut. Seperti biasa mereka pasti menyambut dan membantu menyeduh satu cangkir kopi panas yang saya bawa dari rumah.

Obrolan seputar kondisi keamanan pasti jadi upacara pembukaan. Peristiwa-peristiwa yang menarik yang terjadi di sekitar lingkungan tempat saya tinggal tentu saja selalu terupdate oleh mereka. Sampai akhirnya sang satpam dengan muka ceria dan hati gembira mengatakan bahwa bulan ini adalah bulan terakhir masa cicilan sepeda motornya.

[Read more →]

Anggrek 3 Pagi-Pagi

Hampir setiap pagi, kalo gak bangun kesiangan, saya sempatkan jalan-jalan di sekitar rumah. Sambil menghirup udara pagi hari yang segar sekaligus olah raga dan mijet-mijet telapak kaki di aspal yang sudah banyak yang terkelupas.

Ada satu blok yang sampai saat ini belum tersentuh pembangunan, entah kenapa, di daerah tersebut masih diselimuti belukar dan alang-alang. Bahkan jika beruntung kita dapat berjumpa seekor atau dua ekor ular tanah atau bahkan ular kobra yang berwarna hitam pekat.

Grand Depok City Sektor Anggrek 3

Grand Depok City Sektor Anggrek 3 di Blok G

Ngobrol Premium SMS

Suatu hari terlibat perngobrolan dengan beberapa teman.

t1: Mas Heg, kuis SMS itu khan judi. Tapi koq ndak dilarang ya ?

heg: Hmm, setahuku, judi pasti dilarang, kalo ndak dilarang namanya bukan judi dong.

t1: Mas, jangan dibolak-balik dong pernyataannya.

heg: ha ha ha ha, ya habis mau njawab gimana, wong ijin undian premium SMS dari departemen soksial bisa diperoleh koq dengan mudah. Jadi jelas khan, bukan judi dong.

t1: Menurutku judi mas, karena diiming-imingi hadiah.

t2: Menurutku, kriteria judi adalah harapan untuk memperoleh keuntungan berlipat ganda dengan cara-cara yang kelihatan mudah.

heg: Setahuku kriterianya begitu koq, tetapi kalo ijinnya keluar artinya bukan judi, karena orang-orang pintar di sana telah menyetujuinya.

t1: Tuh khan, tetap saja judi.

heg: Kalo misalnya saat acara seperti AFI, KDI atau Indonesiain Idol, orang boleh melakukan voting, tetapi penyelenggara tidak memberikan hadiah karena murni untuk pemilihan pemenang gimana?

t1: Gak mungkin lah

heg: lah, khan aku bilang misalnya

t2: Aku juga bingung, masalahnya apakah kalo orang memilih agar orang lain tetap dapat bermain di acara tersebut apakah memiliki konotasi judi atau tidak ya.

t1: Kalo iya ternyata bisa berlaku seperti itu, pasti akan ada unsur judinya walau sedikit.

t2: Tetapi bisa juga tidak, karena pemilih tidak mendapat apa-apa kecuali jagoannya akan bertahan di acara tersebut.

t1: Nah, kepuasan itu bisa berarti judi.

heg: Nah lo, kalo yang kayak gini, aku sih gak ngerti. Suwer.

t1: Mas, apapun namanya, kalo itu disebut premium SMS, pasti ada judinya.

heg: lho koq bisa ?

t1: Iya dong, soale semua menawarkan janji-janji semu belaka.

t2: Maksute ?

t1: Ya janji-janji yang tidak mungkin diperoleh oleh mereka.

t2: Janji apa maksutnya ?

t1: Ya janji, aku susah nih jelasinnya.

heg: Sebenarnya premium SMS..eh aku sih lebih suka nyebutnya dengan mobile content service atau layanan value added service masih ada sisi baiknya koq. Khan kita bisa enggak ikutan yang kuis-kuisan, tetapi misalnya mendownload games atau ringtone, atau kalo aku telpon kamu, aku khan bisa denger RBT ndesomu itu.

t1: Ah susah, ngomong sama kamu banyak ngelesnya.

t2: Ha ha ha ha

heg: lho.

t1: pokoke judi! titik.

t2: bisa judi bisa enggak, kalo ada judinya ya gak usah ikutan aja. beres khan

heg: Mungkin aturan yang harus dibenahi, tetapi siapa yang mau mikirin bikin aturan ?

t2: ya pemerintah lah.. he he he

heg: Udah ah mau makan dulu.

nyam nyam

Brand new Nokia E71

Sebenarnya mendengar kata Nokia E71 sudah cukup lama, dan masih menganggap info tersebut sebagai angin lalu. Gimana tidak, sebuah smartphone penerus E61 dengan tampilan QWERTY, tetapi memiliki fiture selengkap E90.
Selain sebenarnya untuk menutupi rasa kesal saya, karena baru saja mengambil Nokia E51.

Sampai siang ini, seorang teman mengirimkan sebuah photo prototype Nokia E71.

Nokia E71

Konon, semua fasilitas yang ada di seri Nokia E61 dibenamkan juga ke dalam Nokia E71. Yang diperbaiki adalah penempatan front camera yang dapat difungsikan untuk melakukan video conference call, sebuah fiture yang oleh Nokia tidak ditambahkan di seri E61.

Ukuran Nokia E71 yang sedikit lebih kecil dari E61 dan lebih lebih besar dari E51, sebenarnya masih cukup baik, kecuali tombol-tombol QWERTY yang menjadi kekecilan untuk jempolku yang besar.

Benda kecil ini dapat beroperasi sampai dengan jaringan 3.6 HSDPA. Selain itu untuk berselancar di internet, E71 juga sudah dilengkapi dengan fasilitas WLAN.
Selain itu, build-in GPS juga telah ditanam di dalam Nokia E71.

Selain itu semua, katanya sih, Nokia E71 juga telah mengadopsi teknologi DVB-H, untuk dapat menikmati layanan Mobile Digital TV pada layar seukuran 320 x 320 pixels.

Fungsi yang lain, sepertinya biasa saja, misalnya memory expansion slot menggunakan microSD yang dapat diupgrade sampai dengan 8GB!
Menurutku yang cukup menarik dari seri E (walaupun bisa di seri N, tetapi saya gak suka dengan seri N), adalah aplikasi VoIP yang dapat digunakan untuk menelpon ke seluruh dunia melalui layanan GPRS/3G atau saat jalan-jalan di mall dan menemukan free wi-fi.
Satu lagi, Nokia E71 didesain lebih stylist daripada seri sebelumnya E61. Bentuknya menurutku seperti E51 tetapi lebih lebar.

—————————–

*Photo milik siapa ya, soale aku juga dikirim oleh teman

Yang ini photo milik 3GWeek.Net

Info yang diperoleh, harga pasaran (street price) E71 ada di kisaran 4.8 - 5.2 Juta Rupiah saja. Worthed dong

Playing Video Games

Liburan panjang dalam rangka memperingati hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Wafatnya Yesus Kristus di bulan Maret 2008 ini saya habiskan dengan bermain console games PlayStation 2.
Eyangnya anak-anak tiba-tiba datang dan mengajak mereka menginap di rumahnya menjadikan liburan kali ini membuat saya cukup berkonsentrasi bermain games.

[Read more →]

Meeting with BudiPutra

Budiputra, mungkin sebuah nama yang cukup banyak dikenal oleh para blogger. CEO dan Founder Asia Blogging Network harus diculik agar dapat sekedar ngobrol ngalur ngidul kiri kanan, maklum mahluk satu ini cukup disibukan dengan kegiatannya di dunia maya.
Hari ini, kebetulan jumpa Uda BP, begitu panggilan saya kepadanya, dan kesempatan yang langka ini langsung dimanfaatkan untuk ngobrol, seputar blog dan tentu saja internet.

Budiputra

[Read more →]

Tiger 10.4.10 on my Compaq

Setelah berulang kali mengalami kegagalan dan ada masalah dengan selalu muncul com.apple.boot.plist error pada saat booting, akhirnya saya berhasil juga membenamkan Tiger 10.4.10 ke dalam Compaq Presario V3000.

Tiger 10.4.10, clown fish

[Read more →]

Bye Bye Netscape

Bye Bye Netscape

Masih ingat saat pertama kali browsing ke dalam jaringan internet melalui koneksi dial-up, menggunakan browser Netscape dan membuka situs pertama, yaitu Playboy

Bulan ini Netscape akhirnya menyerah dari dua adiknya, IE dan Firefox.

Bye Netscape

Upgrade your netscape to another browser

Tarif Listrik Naik

Golongan Tarif

Rata-Rata Nasional

Batas Maksimum

R1 - TR (s.d 450 VA)

75 kWn

60 kWh

R1 - TR (900 VA)

115 kWh

92 kWh

R1 - TR (1300 VA)

197 kWh

158 kWh

R1 - TR (2200 VA)

354 kWh

283 kWh

R2- TR (2201 - 6600 VA)

650 kWh

520 kWh

R3 - TR (6601 - 197.000 VA)

1767 kWh

1413.6 kWh

Tabel di atas adalah tabel yang akan digunakan oleh PLN untuk memberlakukan model tariff yang baru, insentif dan disinsentif.
Saya menyebutnya bonus dan denda.

Menurut saya yang kurang jelas adalah batas maksimum dan rata-rata nasional yang ditetapkan oleh PLN. Tulisan Nasional artinya menyamakan pola pemakaian listrik di kota besar dan pedesaan, dimana pola konsumsi listrik di perkotaan akan lebih ‘boros’ daripada di pedesaan.

Selain itu, PLN mungkin kurang jeli melihat penggunaan listrik di perkotaan yang banyak digunakan untuk menjalankan UKM, misalnya berjualan es mambo, warteg, menjahit dll.
Menurut saya, dengan pola konsumsi listrik yang dianut oleh orang perkotaan akan menyebabkan banyak masyarakat yang akan terkena ‘denda’ karena melebihi maximum quota yang sudah ditetapkan. Dan dendanya tidak tanggung-tanggung, yaitu 60%!.
Dengan hasil ini, artinya, PLN telah sukses menaikan Tariff Dasar Listrik (TDL) tanpa harus menunggu aba-aba dari Presiden/Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan yang mengatur TDL.

TDL diatur oleh Pemerintah selain karena menyangkut hajat hidup orang banyak, juga karena TDL masih mendapatkan subsidi yang diambil dari APBN

Selain pola tarif bonus dan denda, Pemerintah juga akan mulai menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% untuk pelanggan PLN dengan daya terpasang 2200 Watt (VA) ke atas.
Jadi jika pelanggan dengan daya 2200 Watt, menggunakan energi listrik diatas maximum quota, maka pelanggan tersebut akan membayar biaya listrik lebih mahal sampai dengan 76%.

Oh iya, bonus dan denda hanya akan diberikan kepada selisih nilai yang dicapai dari maximum quota yang ditetapkan berdasarkan daya listrik terpasang pelanggan, bukan dari seluruh biaya yang dibebankan.

Berikut ini simulasi biaya beban listrik untuk pelanggan perumahan (R1) dengan daya terpasang 1300 Watt, dengan beban 200 KWH (sumber pln.co.id).

Biaya beban: 1300 / 1000 x Rp. 30.100 = Rp. 39.130
Blok I (20 KWH): 20 x Rp. 385 = Rp 7.700
Blok II (60 KWH): 40 x Rp. 445 = Rp. 17.800
Blok III (> 60 KWH: 140 x Rp. 495 = Rp. 69.300

Total Biaya yang harus dibayarkan sebesar Rp. 133.930.

Sementara saat diterapkan tariff bonus dan denda, maka tariff normal hanya akan dihitung sampai dengan 158 KWH, atau senilai Rp. 113.140,- dan sisa 42 KWH akan dikenai denda dengan perhitungan 48 * Rp. 495 * 1,6 = Rp. 38.016 ,-
Dan total biaya yang harus ditanggung adalah Rp 113.140 + Rp 38.016 = Rp. 151.156,-.
Lebih mahal Rp. 17.226,-

Perhitungan di atas masih menggunakan TDL 2003.

Intinya, kita dipaksa untuk selalu berhemat dalam mengkonsumsi energi listrik. Saya sangat mengerti kesulitan pemerintah karena kenaikan harga BBM yang ternyata juga menjadi salah satu bahan bakar utama pembangkit listrik. Yang saya gak ngerti kenapa quota listrik ditetapkan secara nasional, mengapa bukan per wilayah disesuaikan dengan kondisi di lapangan, karena saya yakin akan selalu kena denda walau dengan pemakaian normal seperti biasa.

Gambar milik pln.co.id