Entries Tagged as ''

kronologger.com

Hari ini gua koq keranjingan dengan yang satu ini.

Sebenarnya gua sudah sign-up di www.kronologger.com sejak Budi Putra kirim SMS beberap waktu yang lalu untuk gabung ke mainannya yang baru.
Hari ini sebenarnya gua baru ingat kalo ada kronologger.com. Dan seharian gua keasikan menjadi kroner di sini.

Semua kegiatan mulai dari kantor, pulang kantor di busway, nunggu Depex di tasyun Juanda, di dalam Depex sampai di rumahpun, mata dan jari gua gak lepas dari handphone. Memang kronologger.com menyiapkan sebuah script sehingga mudah untuk diakses melalui WAP.

Sekarang gua terkena virus Kron, mudah-mudahan cepat berlalu. Tapi apakah mungkin, temukan jawabannya di hedwigus.kronologger.com atau hedwigus.kronologger.com/gprs bagi anda pengguna handphone.

kronologger.com

No Tags

213 Tumben Sepi

Pagi ini setelah turun dari Depex Tanah Abang seperti biasa langsung transit nyambung dengan PPD 213 yang full-copet itu. Kejadian menarik kali ini adalah, bisnya kosong melompong dan cukup nyaman, bisa duduk dari Dukuh Atas sampai Tanjung Durian.

PPD213

No Tags

Banjir di kantor

Tanjung Duren BanjirJam 12:26 seperti yang tertera di pojok kanan bawah monitor gua, dan perut sudah minta diisi. Gua bergegas ke bawah untuk keluar makan siang.

Saat ini gua berkantor di sebuah ruko di bilangan tanjung durian jakarta barat.

Karena posisi ruangan tempat gua berkativitas tidak memiliki akses ke jendela, gua gak tahu kalo ternyata di luar sedang hujan cukup deras. Sampai di bawah di depan lobi, bukan hujan yang gua khawatirkan melainkan banjir.

Musim kemarau kebanjiran, ya di tempat gua salah satunya. Hujan deras enggak sampai 1 jam telah membuat kali sekretaris di depan kantor gua meluap dan membanjiri pelataran parkir.

Gua gak tahu mengapa sungai di depan ruko kantor tempat gua kerja diberi nama kali sekretaris. Padahal sungai tersebut berair hitam legam penuh polusi.

Sudah bisa ditebak, gua batal makan siang karena banjir kira-kira 20cm. Agak susah untuk bergerak melalui halaman ruko orang lain, karena sudah dipenuhi sepeda motor dan mobil yang nangkring menghindari banjir. Tukang bakso yang biasa mangkal di depan kantor juga memilih menghindar dengan menggelar dagangannya di pintu utama kompleks ruko yang bebas banjir karena posisinya lebih tinggi.

Banjir di Tanjung Duren depan Kali Sekertaris

Sekarang jam 2an, hujan masih gerimis. Menurut temen-temen yang sudah sering menghadapi banjir di kantor, jika tidak ada hujan lagi, dalam waktu 3-4 jam air bakalan surut.
masalahnya cacing-cacing ganas di perut gua sudah gak mampu menunggu selama itu, apalagi gua.

No Tags

(kurang ajarnya) Penjaga Loket

Hampir setiap pulang dari kantor, gua banyak mengalami hal-hal yang aneh menyebalkan. Setelah gua mengalami pengalaman yang buruk lucu di busway koridor III, kali ini gua harus menghadapi penjaga loket Depok Express di station kota yang sangat-sangat menyebalkan sampek pengen rasanya bogem gua masukin ke mulut bawelnya.

“Mas, uang kecil aja” ucap penjaga loket sambil sedikit membentak.

Gua memang kebetulan ngasih uang 50 ribuan yang rada lecek, karena gua kantongin di celana selama 2 hari (ketahuan celana 2 hari gak ganti deh)

“Maaf mas, uang saya tinggal satu-satunya ini, gak ada lagi” gua jawab

Memang hari itu uang yang menempel di tubuh gua ya tinggal 50 ribu perak.

“Gak ada kembalinya” Dia menghardik gua, sambil mendorong kembali uang 50ribuan lecek gua keluar loket.

Gua langsung naik pitam !!! railfans diginiin !!!

“Nyet…. !!! itu depan moncong lu ada 10 ribuan dan 20 ribuan setumpuk, loe bilang gak ada kembalian!!” Gua marah-marah.

Sambil merengut kayak banci kurang setoran akhirnya dia ngasih tiket ke gua dengan kembalian 41 ribu rupiah saja.

Reflek gua keluarin handphone yang pernah blank dan c’prett!! gua potrek si pegawai honorer nan blagu luar biasa itu. Dia sewot dan marah-marah dari balik kandangnya persis seperti monyet di ragunan.

Penjaga Loket Jakarta Kota

Gua langsung jalan naik Depex jam 18:00 yang baru berangkat jam 19:00 yang penuh sesak persis KRL Ekonomi.

Busway Koridor III

“Bang ! santai aja !!” teriak penjaga pintu (kondektur, kernet) busway koridor III saat hampir terjerembab saat gua dorong.
Ya tentu saja gua dorong, karena sudah 30 menit nunggu dan ada 3 bus yang kosong dan hanya lewat saja di halte Pademangan, Grogol.

“Kenapa Lu? Ngapain teriak-teriak gitu ?” Gua tanya dengan santai sambil mencoba tidak terbawa emosi.
“Jangan dorong gitu dong” Si kernet coba menjawab.
“Mas kernet yang baik, gua sudah 30 menit nunggu, terus ada 3 bus kosong melompong yang gak mau berhenti, penumpang saja antri sampek ke tangga masuk halte. Terus elu minta gua nunggu lagi ?” gua coba ngeles.

Si kernet tampak bingung harus menjawab apa, dia tampaknya sudah menyerah.
“ya sudah abang yang pinter, saya yang bodoh” Si kernet tiba-tiba menyerah.
“Nah gitu dong, ngaku. Mangkannya lain kali kalo bus masih lowong masukin yang banyak saja. Toh ini halte terakhir dan semua bakalan turun di Harmoni” Gua mencoba menekan mentalnya.

Gua sengaja enggak pindah dari hadapan sang kondektur, padahal sore itu busway koridor III yang gua tumpangi masih cukup lowong.

Tiba di Tomang, kejadian di jalur busway makin parah lagi. Jalur dari harmoni ke arah tomang sudah penuh diisi oleh mobil pribadi (ini akibat kecerdasan Pak Polantas dan Pak Dishub yang diatas rata-rata monyet). Akibatnya seluruh busway dari arah harmoni mengambil jatah jalur busway arah sebaliknya (istilah di kereta api adalah menggunakan spoor salah).
Ujung-ujungnya busway yang gua tumpangi harus berbaur dengan jalur reguler dengan bonus macet total.

Gua rada heran saja dengan pola pengaturan busway oleh trans jakarta. Mengapa mereka tidak mau mengikuti polanya PT.Kereta Api (persero) dalam mengatur perjalan kereta api yang menggunakan 1 jalur.

Pada ruas padat, sehingga busway harus tertahan oleh kendaraan pribadi, bajaj, angkot, metromini, PPD dan sepeda motor. Sebaiknya diterapkan sistem persilangan dengan pengaturan perjalanan secara bergantian.
Tidak perlu pake sistem signal seperti di kereta api. Cukup pake radio yang ada di bus dan para petugas di lapangan.

penerapan pengaturan ala kereta api untuk busway

Gua yakin sistem silangan seperti model kereta api, akan lebih efektif bagi perjalanan busway dengan jalur-jalur yang sering diserobot oleh kendaraan non busway.

Untung saja, KRL Depex jam 18:56 yang berangkat dari Station Jakarta Kota, sedikit terlambat. Jadi gua masih bisa pulang ke Depok dengan cukup nyaman.

Penumpang Gelap

Seperti biasa, setiap sore pulang dari kantor ke rumah menggunakan KRL Depok Express.

Sore tadi, gua sempat naik KRL Depok Express yang berangkat dari Station Jakarta Kota jam 17:20. Karena rangkaian masih belum penuh, gua memilih jalan ke depan dan kemudian naik dan duduk di gerbong satu.
Tepat waktu, KRL Depex berjalan meninggalkan Station Jakarta Kota (atau ada orang yang menyebut Station Beos).

Kira-kira 5 menit setelah itu, rangkaian tiba di Station Juanda. KRL memang berhenti normal di station ini untuk menaikan penumpang.
Begitu pintu terbuka, berhamburanlah puluhan orang masuk untuk memperebutkan kursi kosong yang tersisa. Gerbong satu langsung penuh seketika, ada yang duduk, berdiri, duduk di dingklik (kursi lipat kecil) dan ada juga yang lesehan beralaskan koran.
Sampai di Station Gambir, kembali kejadian yang sama terjadi. Gerbong yang mulai penuh kembali diisi orang-orang yang akan kembali pulang setelah seharian beraktivitas di Jakarta.

Di Station Gondandia setelah kira-kira 15 menit rangkaian meluncur dari Station Jakarta Kota, kembali Rangkain Depex berhenti untuk menaikan penumpang. Kejadian terulang kembali, setelah pintu terbuka, puluhan orang kembali merangsek masuk ke dalam rangkaian, KRL Depex Gerbong Satu langsung penuh sesak.

Tiba-tiba dari arah depan (dekat ruang masinis) ada sedikit kegaduhan, dan diikuti dengan orang-orang yang berhamburan keluar dari kereta api.

“ada apa nih mas, koq orang pada keluar, ada copet ya ??” seorang ibu di sebelah gua bertanya.
“Aduh!! jangan-jangan ada kebakaran ya !!” lagi seorang ibu tampak cemas, sambil siap-siap lompat keluar.

Sekilas gua melihat ada petugas PS (Polisi Sepur … gua juga belum tahu arti sebenernya sih) yang keluar dari kabin masinis.

“tenang saja ibu, orang pada kabur bukan karena copet atau kebakaran. tapi ada petugas PS, tuh lihat aja ada 5 orang” gua bicara kepada kedua ibu tersebut.
“ow. pantesan pada kabur!” mereka berdua sambil tersenyum.

Para penumpang di gerbong satu sangat senang dengan kejadian lucu tersebut, karena sebagian orang yang ternyata tidak memiliki karcis express alias penumpang gelap, berebutan turun lantaran takut didenda Rp.30,000,- oleh para petugas itu.
Rangkaianpun menjadi lowong dengan hanya 6-7 orang yang berdiri, setelah sebelumnya penuh sesak.

Rangkaian KRL Depex Gerbong Satu memang adalah tempat andalan bagi para penumpang gelap tanpa karcis express. Di sini mereka merdeka, karena sang kondektur dapat dibungkam dengan mudah hanya dengan memberi uang 3000an saja (ya!! bukan 5000an alias goncengers, tapi cukup 3000 rupiah saja). Bahkan beberapa orang lebih berani lagi dengan pura-pura memiliki KTB (Kartu Tanda Berlangganan) alias Abudemen.

Memang tingkat rasa memiliki para penumpang memang tinggi, sampai naik kereta api pun maunya gratisan. Awak kereta api juga masih memiliki dedikasi yang rendah dengan mencari uang tambahan melalui cara yang salah. Ujungnya pelayanan tidak akan dapat diberikan secara maksimal, karena kedua belah pihak lebih menginginkan kondisi saat ini dapat berlangsung selamanya

No Tags

Satpam dan Pembantu

Memilih tempat tinggal memang memerlukan sebuah pemikiran yang panjang, tenang dan hati-hati.

sandp1.jpg

Di tempat gua tinggal sekarang, walau masih menyisakan sedikit masalah dengan banyak persoalan dengan pihak pengembang tetapi suasananya cukup nyaman, selain karena sebagian besar dari penghuninya memiliki usia yang rata-rata sama, para penghuni ternyata banyak memiliki kesamaan minat dan bakat seperti misalnya doyan karaoke, doyan sepedaan sama doyan nongkrong di pos security yang jumlahnya ada 5 di seluruh komplek.

Nongkrong di pos security buat gua kadang memberikan sebuah suasana tersendiri yang cukup unik. Dengan bermodalkan kopi sachetan yang bisa dibeli di warung, para security yang bertugas dapat segera membantu menyeduh dan secangkir kopi panas siap sedia.

Pos security tempat biasa gua tongrongkin, memang cukup nyaman karena berada di sudut dari sebuah taman yang dilengkapi dengan lapangan bola voli. Jika malam hari, udara cukup sejuk, tetapi saat siang hari panasnya bukan kepalang, karena pepohonannya belum mampu melindungi dari panasnya matahari.

Sambil minum kopi dan kadang menghisap rokok, gua kadang suka mendengar dan kadang larut dalam obrolan-obrolan yang terjadi.
Sampai suatu hari gua mendengara obrolan yang cukup menarik, bukan tentang pilkada, bukan tentang gaji security, bukan obrolan sepak bola, tetapi sebuah informasi yang cukup seru, yaitu tentang hubungan para security dan pembantu.

Seru, tentu saja seru. Sepanjang week-days khususnya saat jam kerja, tempat tinggal gua pasti langsung sepi, karena kebanyakan para penghuni sudah bergerak ke tempat kerjanya. Beberapa kadang harus segera berangkat setelah menyelesaikan sholat shubuhnya, dan ada yang harus kembali pulang ke rumah setelah tengah malam.
Singkatnya setiap week-days, komplek pasti sepi.

Sementara para penghuni pergi beraktivitas, di rumah, tinggalah anak-anak bersama pembantu dan baby sitter.

Suatu hari, karena gua rada malas ke kantor dan mending kerja di rumah, gua menyaksikan para pembantu menyuapi anak-anak majikannya sambil jalan-jalan sekitar rumah atau bahkan sampai ke lapangan voli dekat rumah gua.

Sebuah pemandangan yang menurut gua menarik, saat para pembantu mulai ngobrol dengan para security. Bahkan diantara mereka ada yang cara ngobrolnya cukup serius tingkat kemesraannya.

Kembali ke nongkrong di pos security. Di dalam obrolan yang gua dengar di antara mereka, ternyata memang ada hubungan yang serius antara beberapa security dan beberapa orang pembantu. Bahkan ada diantara mereka yang akan segera melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Tetapi ada pula kejadian dimana ada seorang pembantu yang dibawa kabur oleh seorang security, padahal sang security sudah memiliki istri dan anak.
Atau kejadian yang lebih memalukan, seperti seorang pembantu yang kedapatan dihamili oleh seorang security.

Dalam hal ini kadang kita tidak dapat menyalahkan mereka secara semena-mena. Hanya dengan pikiran yang jernihlah, masalah ini dapat diselesaikan dan dapat dihindari di masa yang akan datang.

Masalah satpam dan pembantu, adalah sebuah masalah yang sering terjadi di pemukiman-pemukiman yang tumbuh menjamur saat ini.
Kedua pekerja ini memang sangat dibutuhkan, khususnya buat gua. Saat gua asik bekerja di Jakarta, anak-anak gua dapat perlindungan dari para security dan diasuh oleh pembantu.
Kadang kala mereka cukup merepotkan, tetapi selalu dibutuhkan.

Cara gua untuk mencegah terjadinya hubungan yang tidak sehat antara security dan pembantu adalah dengan nongkrong kongkow di pos satpam. Dengan mendengar dan mengenal mereka dengan lebih baik (kadang gua juga membelikan rokok, nasi goreng dll dll), gua mencoba membuat sebuah hubungan yang sehat sehingga para security tidak enggan untuk berbuat kurang ajar ke gua.
Gua enggak tahu, apakah cara gua ini benar, tetapi yang jelas, sampai saat ini belum ada security yang bertindak kelewat batas kepada para pembantu di rumah gua.

Bahkan mereka cukup melindungi rumah gua.

MT-300

Maksut hati nemenim bokin belanja di carrefour di ITC Depok.
Iseng-iseng ke lantai dua lihat sepeda,  wuih.., ada Polygon MT-300. Sebenarnya gua enggak ngincer type yang satu ini, melainkan Polygon Tyrano.
Berhubung yang Tyrano enggak ada, ya gua terpaksa ambil yang MT-300 aja.

Harganya gak mahal-mahal banget, hanya 1,799,000, harga itu sudah aja discount dari 1,899,000.

Sebenarnya pas liburan pilkada, gua sempetin dateng ke rodalink margonda, rencananya mau ambil Quatro, tapi stocknya enggak ada, dan harus pesen dulu.

Sekarang MX-300 sudah nangkring di rumah, lumayan bisa dipake x-country bukit di depan rumah

Kartu Kredit Kapan Lunas

Nggesek kartu kredit memang menyenangkan.
Coba aja, pergi ke mall atau toko apapun yang di depan pintunya ada logo Visa atau Master Card, ambil barang apa saja, terus bawa ke kasir dan sreeettt… gesek, selesai sudah. Tetapi setela itu akan masuk dalam perangkap hutang yang seakan tiada akhir.

Gua sebenarnya orang suka make kartu kredit, setiap gua belanja bulanan, gua selalu menggunakan kartu kredit daripada pake kartu debet. Ada yang bilang gua hobbynya ngutang.

Jika diperhatikan !!,
setiap penerbit kartu kredit memiliki program reward
Baik yang sifatnya cash/point maupun tidak.
Jika ternyata penerbit kartu kredit yang ada didompet enggak punya program ini,
mending gunting aja kartunya dan tidak usah apply lagi.

Balik lagi ngomongin belanja bulanan.
Setelah gua bayar semua belanjaan pake kartu kredit, biasanya gua pergi ke ATM terdekat, biasanya sambil masih ndorong-ndorong troley belanjaan.
Di ATM gua langsung membayar tunai hutang kartu kredit sebanyak yang gua pake untuk belanja bulanan. Biasanya kalo ATM lagi rame, gua biasanya menggunakan internet banking untuk mbayar, biasanya setelah satu atau dua hari.
Yang penting adalah jangan sampai jatuh tempo saja.

Kenapa gua melakukan ini?
Simple saja, karena reward program itu tadi. Apabila gua membayar dengan kartu debet maka akan terjadi pemotongan balance di tabungan gua. Jika gua membayar menggunakan kartu kredit, kemudian dilunasi dengan kartu debet, selain ada pemotongan balance, gua dapat point reward dari sang kartu.
Hitungan sederhana saja, gua masih diuntungkan. Bahkan setidaknya annual fee sang kartu kredit sudah tercover dari point yang gua terima.

BB200 sudah 50 tahun

Mungkin banyak yang belum tahu atau tidak peduli dengan sebuah nama BB200, sebuah lokomotif diesel hydrolic keluaran General Motor yang sudah 50 tahun malang melintang di lintasan kereta api khususnya di Jawa.

Hari ini sebenarnya gua harus hadir di Semarang, karena hari ini adalah tepat 50 tahun Lokomotive BB200 berulang tahun (sebenarnya batch terakhir usianya mungkin belum 50 tahun).
Dan seharusnya gua hadir di Semarang untuk bersama teman-teman mencuci sampai bersih loko BB20029 (artinya Lokomotive Type BB200 No Urut 29).

BB200

Yang lebih lucu lagi, kali ini mencuci locomotive koq cewek-cewek, sejak kapan railfans didomonasi perempuan.

Dasar Panitia.

No Tags