Gigi

Gigiku Retak

0

Siapa yang tidak suka tempe yang menurutku adalah makan tradisional asli Indonesia yang masuk jajaran makan terenak sedunia. Sore kemarin, seperti biasa jika ada tempe yang baru selesai digoreng, memang paling enak dimakan begitu saja tanpa nasi. Hari ini mungkin bukan tempe terbaik yang saya makan, tetapi rasa khas yang enak masih sangat terasa, dan sore ini tempe yang saya makan ternyata mengandung sebuah kerikil disela-sela kedelainya.
Tanpa ada warning terlebih dahulu, kerikil kecil yang keras itu tergigit gigi geraham saat mengunyah dan sore yang cerah menjadi sore yang menyakitkan dibalik pipi kananku.

Urusan gigi tentu saja harus dibawa ke dokter gigi, dan singkat cerita dokter mengatakan bahwa gigi geraham kanan bawah saya mengalami kerusakan parah, yaitu retak!.
Diskusi dengan dokter mengatakan bahwa retakan tersebut membuat satu bagian gigi yang terbelah menjadi goyang dan berpotensi menimbulkan rasa sakit tanpa henti. Tidak hanya saat makan, tetapi rasa sakit akan berlangsung terus menerus bahkan saat tidur.

Gigi retak

Jalan satu-satunya adalah mencabut gigi yang rusak tersebut. Dan untuk mencegah kehilangan graham secara keseluruhan, dokter gigi menyarankan untuk mencabut sisi gigi yang goyang dan menyisakan graham yang masih kuat untuk dikemudian hari dapat dipasang crown.

Mengingat saya harus menghemat jumlah gigi yang berkurang, akhirnya menurut saja apa yang disampaikan dokter gigi, selain itu perawatan gigi juga masuk didalam plan asuransi kesehatanku.

Gigi separo

Sekarang gigiku bekurang setengah lagi di bagian geraham, dan membuat saya untuk semakin konsisten mengurangi makan yang keras dan steak :) .

 

Anti Slip Mate

Membuat Sun Screen sendiri untuk Jendela

1

Karena hidup di negara tropis, tentu saja hawa panas sudah menjadi suasana sehari-hari, kecuali saat musim hujan saja saya dapat menikmati hawa dingin tanpa menggunakan AC.
Hawa panas tentu saja membutuhkan sirkulasi yang baik juga, salah satunya adalah membuat jendela yang cukup lebar sehingga udara dapat berotasi dengan mudah.

Selain butuh teralis yang kuat dan indah tentu saja, jendela besar juga memerlukan penutup alias gorden yang cukup besar juga. Karena kebetulan saya kurang suka dengan gorden, maka sebagai penggantinya adalah menggunakan kaca film gelap atau memasang vertical blind.
Karena saya juga tidak terlalu suka kaca film karena kualitas film biasanya tidak bertahan lama dan cenderung mengelupas saat udara berubah-ubah, maka pilihannya ya tinggak Vertical Blind.

Ada lagi dengan pilihan memasang sticker sand-blast, tetapi tentu saja menghalangi kenikmatan menikmati suasana teras karena semua terhalang sticker.

Saya coba mencari Sun-Screen dibandingkan Vertical Blind, karena bagi saya tidak memakan banyak tempat, karena dapat diaplikasikan langsung di kaca jendela tanpa harus merusak kusen atau dinding.
Mencari Sun-Screen juga bukan hal mudah, karena ternyata sulit juga mencari yang kira-kira pas untuk dipasang di Jendela.

Tetapi saya gak mungkin membiarkan kaca jendela menjadi tembus terus menerus sementara Sun-Screen belum dapat untuk dipasang. Sampai suatu siang saya menemukan Anti-Slip Mate disebuah toko perkakas.

Anti Slip Mate

Anti Slip Mate

Berbahan karet dan memiliki texture menarik dengan beberapa pilihan warna. Ternyata ada yang memiliki ukuran lebar 27.5 cm dan panjang 148 cm. Dan tiba-tiba tercetus ide untuk membuat Sun-Screen dadakan. Harganyapun berkisar Rp. 22.500 cukup masuk akal. (andai bisa lebih murah lagi).
Pilihan saya jatuh pada warna abu-abu dan coklat tua. Keduanya memiliki texture permukaan yang berlainan, sepertinya cukup OK ditempel di jendela rumah saya.

Sampainya dirumah, saya berusaha untuk mencari jalan, agar benda ini dapat menempel di kaca jendela. Yang terbesit hanyalah isolasi/selotip bening. Karena saat itu, hanya benda itu yang ada. Peralatan tambahan lainnya hanya spidol non permanen dan penggaris.
Saya tidak perlu memotong Anti-Slip Mate karena cukup untuk diaplikasikan di kaca jendela rumah.

Peralatan Pendukung

Peralatan Pendukung

 

Ukur sana-sini dan dengan bantuan selotip, Anti-Slip mate berhasil melekat di kaca jendela dengan baik (menurut saya lho). Karena cukup ringan, saya rasa selotip dapat kuat menahannya untuk waktu yang lama.

Melekatkan Anti-Slip Mate

Melekatkan Anti-Slip Mate

 

Dengan bantuan garisan, maka pemasangan Sun-Screen dapat cukup porposional di kaca jendela. Dan berikut adalah hasilnya. Sementara saya tetap mencari Sun-Screen yang pas, kaca jendela menjadi lebih redup dan tetap dapat memandang keluar jendela.

Sun Screen

Sun Screen

Sun Screen

Sun Screen

 

Microsoft Excel

MS Excel dari Baris ke Kolom

0

Banyak orang pasti sering menggunakan Microsoft Excel untuk mengerjakan tabel-tabel. Sepertinya sudah tidak ada aplikasi lainnya yang saat ini dapat menandinginya.

Tetapi, terkadang kita dibuat bingung apabila harus merubah sebuah isi tabel dari awalnya Kolom menjadi sebuah Baris atau sebaliknya seperti gambar berikut ini.

Microsoft Excel

 

menjadi sebuah tabel seperi ini.

Microsoft Excel

 

Saya menggunakan Microsoft Excel 2003 untuk melakukan ini dan tentu saja mudah dilakukan karena data yang harus dikonversi masih sedikit. Bagaimana apabila baris yang harus dikerjakan cukup banyak, misalnya 100 baris.
Tentu saja hanya menjadi sebuah pekerjaan yang membuang waktu saja.

Untung ada fungsi di Microsoft Excel 2003 untuk melakukan itu semua, yaitu pilihan Paste Special dan pilihan Transpose.

Excel Paste Special

Caranya:

1. Sorot (select) bagian cell yang akan dirubah.

2. Tekan tombol Copy atau menekan shortcut CTRL + C dengan keyboar.

3. Letakan cursor di cell tujuan yang dikehendaki.

4. Click kanan pada mouse

5. Pilih Paste Special

6. Centang Transpose

7. Tekan OK.

Dan, voila. Kita sudah punya format kolom seperti yang diinginkan dalam waktu sekejap.

Selamat mencoba

hospital

Kecelakaan

1

hospitalSeperti biasa pagi itu saya naik sepeda keliling sekitar Grand Depok City. Biasanya saya menghabiskan 15 Km bersepeda pagi mulai pukul 5:30 sampai dengan sekitar pukul 6:30, saya lakukan ini hampir setiap pagi baik weekend maupun weekdays.

Memang pagi itu badan saya tidak begitu fit selain udara memang cukup dingin karena seingatku subuh masih hujan gerimis. Saya juga sepedeaan dengan training panjang dan jaket dan hanya menggunakan topi tanpa menggunakan helm.
Saya juga berjalan mengambil rute biasa dengan sedikit tanjakan dan turunan yang tidak terlalu curam. Tetapi karena hari itu saya seperti kurang fit, tidak sengaja malah terjatuh kepeleset dan jatuh cukup telak menghantam aspal. Masih untung jatuh kesebelah kiri dan banyak rumput tetapi pelipis kanan masih sempat mencium aspal dan saya pun sempat tak sadar beberapa saat.

Singkat cerita setelah sampek rumah dan pergi ke rumah sakit, ternyata ada penggumpalan darah di otak saya sebelah kiri. Sementara pelipis dan pipi kanan babak belur masih ditutup perban. Dan bed-rest 4 hari di Rumah sakit adalah efek sampingnya.

Oh iya, ini adalah kali pertama saya dirawat inap di rumah sakit.

Karena sebab sederhana yaitu tidak menggunakan helm, kepala saya mengalami trauma dan proses recoverynya akan memakan waktu yang cukup lama.
Saya sementara tidak dapat melakukan aktivitas yang berat-berat walau sudah diperbolehkan untuk kembali melakukan kegiatan dan pekerjaan saya sebelumnya. Tetapi tentu saja dengan porsi yang perlu ditakar agar tidak terlalu cepat lelah dan mengganggu proses recovery.

Hampir satu bulan setelah kecelakaan terjadi. Saya masih harus tetap harus menjaga kondisi walaupun beberapa project yang saya pegang sempat molor karena bed-rest dan semua akibat tidak pake helm.

KRL

Tarif Progresif Commuter Line

1

Setelah bertahun-tahun hanya menjadi sebuah wacana tanpa kejelasan, akhirnya pada tanggal 1 Juni 2013, tariff progresif perjalanan KRL Commuter Line diterapkan oleh penguasa kereta api di Indonesia.

Jaman dahulu kala saya harus membayar Rp. 9000,- untuk perjalanan dari Depok kearah Jakarta dengan menggunakan KRL Express AC. Kemudian setelah berubah menjadi KRL Commuter Line, saya harus membayar Rp. 8000,- untuk perjalanan dari Depok kearah Jakarta dan sebaliknya.

Dengan Tarif Progresif, maka saya hanya akan membayar sesuai jarak saja alias jauh dekat tidak sama. Saat ini patokan jarak adalah menggunakan jumlah stasiun yang dilewati.

Jadi, apabila dulu saya harus membayar Rp. 8000,- untuk perjalanan dari Stasiun Depok sampai dengan Stasiun Tanjung Barat, maka dengan tarif progresif, saya hanya membayar Rp. 4000,-. Lebih murah separo harga.

Berikut Tarif Perjalanan dari tempat dimana saya sering bepergian kearah Jakarta, yaitu Stasiun Depok Lama (DP)

Stasiun Awal Stasiun Tujuan Tariff Progresif (Rp)
Depok Lenteng Agung 3000
Depok Tanjung Barat 4000
Depok Pasar Minggu 4000
Depok Kalibata 5000
Depok Cawang 5000
Depok Tebet 5000
Depok Manggarai 6000
Depok Cikini 6000
Depok Gondangdia 6000
Depok Juanda 7000
Depok Mangga Besar 7000
Depok Jayakarta 8000
Depok Jakarta Kota 8000
Depok Sudirman 6000
Depok Tanah Abang 7000
Depok Jatinegara 6000

tariff tersebut diatas berlaku pergi-pulang

Selamat menikmati perjalanan dengan transportasi masal

Penahan Tanaman

Penahan Tanaman dari Sumpit

1

Sumpit (chopstick) sepertinya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari para penggemar kuliner bakmi dan bihun. Saya kebetulan suka dengan jajanan mie ayam yang banyak dijajakan disetiap sudut jalan di Jakarta ini, dan sumpit menjadi media untuk menikmati mie ayam tersebut.

Sudah beberapa bulan ini, saya menjalankan aktivitas berkebun, bukan kebun produksi yang luas, tetapi hanya kegiatan di teras rumah saya yang sempit ini.
Tanaman saya tanam dari benih yang saya beli di toko perkakas karena menurut saya cukup mudah dan tidak merepotkan, walaupun tentu saja cukup lama untuk dapat tumbuh besar. Tetapi setidaknya saya menikmati kegiatan ini dan dapat mengikuti pertumbuhan tanaman yang saya tanam mulai dari bentuk “kecambah” sampai cukup besar.

Saat tanaman mulai tumbuh membesar, sepertinya mereka tidak memiliki batang yang cukup kuat untuk menahan dirinya sendiri, apalagi waktu saya sirami. Tanaman itu langsung bengkok saat tersemprot air keran.

Batang tanaman yang bengkok setelah tersiram air

Kembali ke sumpit.
Pedagang mie ayam gerobakan sepertinya selalu membuang sumpit-sumpit bekas para pembelinya. Sejenak saya berpikir mengapa tidak mengambil sumpit bekas tersebut untuk digunakan sebagai penahan tanaman, setidaknya saat mulai tumbuh dan agar memiliki batang yang lurus.Tinggal memintanya kepada penjual mie ayam, dan saya langsung mendapatkan puluhan sumpit bekas. Setidaknya minta dibilas terlebih dahulu dan dibungkus koran agar tidak merepotkan saat dibawa.

Berikut ini adalah cara saya memanfaatkan sumpit bekas untuk penahan tanaman. Saya tidak terlalu suka mengikat tanaman dengan tali, karena batang tanaman yang baru tumbuh sangat kecil dan menurut saya mengikat dengan tali sangatlah merepotkan. Saya menggunakan kawat sebagai penahan batang.

Kawat dan Sumpit

Saya menggunakan kawat yang biasanya dimanfaatkan untuk membuat hiasan bunga kertas. Kawat seperti ini dapat dibeli di toko-toko buku bagian prakarya.

Sumpit dan Kawat

Sumpit yang telah diberi kawat tinggal ditancapkan di dekat batang tanaman yang hendak ditahan. Tidak perlu menggunakan tali untuk mengikat, yang penting batang tanaman dapat berdiri tegak dengan penahan ini.

Penahan tanaman dari sumpit bekas

Kawat cukup flexible untuk ditekuk dan cukup kuat untuk menahan batang tanaman.

Menahan tanaman yang cukup besar

Peralatan yang digunakan hanya sebuah tang untuk memotong kawat dan membuat ikatan.

Tang

Membuat Foto Star Trail

1

Sejak lama, saya selalu bercita-cita untuk membuat foto star-trail. Apasih foto star-trail?.

Foto Startrail adalah teknik pengambilan foto benda langit dengan membuka rana kamera secara terus menerus, istilahnya “bulb”.  Hasil foto akan berupa garis-garis terang karena gerakan rotasi bumi terhadap benda-benda angkas tersebut.  Tetapi diera photography digital, teknik bulb menurut saya tidak cocok digunakan untuk mengabadikan foto star-trail, karena bagi saya, sensor kamera digital tidak sebaik film negatif untuk menangkap keindahan alam yang ada.

Tetapi jangan “galau” dulu, foto startrail tetap dapat dibuat dengan membuat multiple exposure photo dan dengan bantuan freeware Startrail (link download dapat dilihat diakhir tulisan ini).

StarTrail

StarTrail

Untuk membuat foto, saya menggunakan lensa 16mm (wide), atau jika tidak tersedia, lensa kit masih tetap dapat digunakan. Kamera saya set di rana 30 detik dan dengan diafragma F7. Tujuannya agar cahaya yang masuk cukup untuk membuat gambar yang cerah tetapi dengan garis-garis yang tegas.
Focal-length saya buat dalam mode manual diposisi infinity.

Membuat foto seperti ini, membutuhkan udara yang cerah tanpa awan atau kabut dan diusahakan berada di lokasi yang sedikit atau tanpa cahaya. Saya membuat di teras rumah saya di lantai 2 dengan memadamkan lampu teras dan lampu jalan.

Arah object juga akan menentukan hasil dari foto Startrail yang akan dibuat. Saya kebetulan bertempat tinggal di Kota Depok (Jawa Barat). Di beberapa malam dalam satu tahun, saya masih berkesempatan mendapatkan udara malam dengan langit yang bersih, ditambah lagi di Depok (khususnya daerah saya tingga) sering mengalami mati listrik dengan durasi yang cukup panjang di malam hari. Kondisi seperti ini membuat langit malam menjadi lebih cerah dan cukup baik untuk mengabadikan foto Startrail.
Arahkan kamera anda kearah Selatan atau Utara, maka anda akan mendapatkan foto Startrail dengan jalur melingkar. Jika diarahkan tegak lurus keatas, makan akan mendapatkan foto Startrail dengan garis-garis lurus seperti hujan meteor.

Usahakan untuk menangkap sedikit bagian pohon atau rumah atau benda apa saja sebagai foreground sehingga dapat membuat foto Startrail menjadi lebih natural.

Startrail

Latar Depan Pohon dan menghadap kearah Selatan

Peralatan

Untuk membuat foto Startrail, gunakan tripod yang cukup kuat agar tidak ada getaran kecil yang dapat mengganggu hasil foto. Gunakan juga remote shutter release, usahakan menggunakan wireless untuk menghindari kamera tidak sengaja tergeser karena kabel romote tersangkut.
Siapkan lampu senter kecil untuk membaca parameter di lensa selain untuk menjadi penerangan disekitar lokasi pemotretan. Tempat duduk atau tiker untuk alas duduk sambil menunggu proses pemotretan.
Dan yang tidak boleh dilupakan, siapkan minuman hangat dan makanan kecil, karena proses pengambilan gambar ini dapat berlangsung sampai beberapa jam.

Siapkan juga obat nyamuk gosok agar tidak diganggu nyamuk

Trik

Karena saya menggunakan kamera DSLR untuk mengambil gambar secara berkesinambungan, maka diusahakan jeda antar gambar/frame tidak lebih dari 3 detik. Tujuannya agar tidak ada ruang kosong antar frame akibat terlalu lama mengambil jeda.
Saya membuat setidaknya 120 frame dalam satu posisi. Ini lamanya kira-kira 1 jam lebih sedikit.

Saya menggunakan format JPEG dengan resolusi tertinggi untuk membuat rangkaian foto ini. Hal ini untuk memudahkan saat melakukan export ke Aplikasi Startrail.

Sekitar jam 20:00 dengan awan mendung menghadap ke Timur

Proses Penyambungan

Setelah dirasa cukup, frame-frame yang dihasilkan didownload ke PC untuk kemudian dilakukan proses penyambungan. Aplikasi yang saya gunakan cukup mudah, hanya memasukan foto secara berurutan, dan aplikasi yang akan menyambungkan semua.

Kadangkala saat pengambilan foto sedang berlangsung, muncul cahaya kilat di langit yang akan mengganggu seluruh proses pembuatan. Saya melakukan koreksi pada gambar yang mengalami gangguan dengan mengatur ulang nilai “Level” agar seragam dengan frame lainnya.

Setelah seluruh frame yang ada dirasa telah sesuai dan secara kualitas seragam, maka proses penggabungkan dapat dilakukan. Waktu penggambungan tergantung dari ukuran foto yang dibuat dan kemampuan komputer yang digunakan. Normalnya dengan ukuran foto 10 Megapixels dengan 120 frame akan memakan waktu sekitar 10 menit.

Setelah foto berhasil digabungkan, maka akan muncul gambar Startrail. Anda dapat menggunakan image editor untuk membuat gambar lebih dramatis lagi.

Selamat mencoba

Pukul 23:00 WIB berawan dan arah ke Selatan dari teras rumah

—————————————————-

Aplikasi Startrail dapat didapatkan disini

s35

Jadual Commuter Line Gapeka 2013

0

Seperti biasa, PTKA selalu memperbaharui jadual perjalanan kereta api setiap tahunnya. Gapeka atau Grafik Perjalanan Kereta Api, biasanya diupdate pada bulan April. Tahun ini disebut dengan Gapeka 2013.

Dengan perubahan Gapeka ini, tentu saja mempengaruhi pola perjalanan penumpang kereta api, tidak terkecuali penumpang KRL Commuter Line.

Seperti biasa, saya memilih stasiun keberangkatan Depok (DP) dengan tujuan akhir Stasiun Manggarai (MRI), Stasiun Cikin (CKI), Gondangdia (GDD) atau Sudirman (SUD).

Berikut adalah jadual Commuter Line yang biasa saya tumpangi untuk perjalanan ke Jakarta.

PAGIPemberangkatan Depok Tujuan Jakarta Kota
No KA Depok MRI CKI GDD
453 06:56 07:33 07:37 07:40
459 07:20 07:57 08:01 08:04
463 07:44 08:21 08:25 08:28
467 08:02 08:39 08:43 08:46
471 08:19 08:56 09:00 09:03
475 08:38 09:15 09:19 09:22
PAGIPemberangkatan Bogor Singgah di Depok Tujuan Jakarta Kota
No KA Depok MRI CKI GDD
451 06:44 07:22 07:26 07:29
455 07:01 07:38 07:42 07:45
457 07:15 07:52 07:56 07:59
461 07:32 08:09 08:13 08:16
465 07:51 08:28 08:32 08:35
469 08:07 08:44 08:48 08:51
473 08:32 09:09 09:13 09:16
477 08:50 09:30 09:34 09:37
479 08:56 09:33 09:37 09:40
483 09:13 09:50 09:54 09:57
489 09:45 10:22 10:26 10:29
PAGIPemberangkatan Depok Tujuan Tanah Abang
No KA Depok MRI SUD THB
*837 06:27 07:04 07:09 07:17
*845 06:51 07:30 07:35 07:43
*853 07:25 08:02 08:07 08:15
*861 07:58 08:35 08:40 08:48
*865 08:14 08:51 08:56 09:04
877 09:01 09:38 09:43 09:51
881 09:19 09:57 10:02 10:10
889 09:52 10:29 10:34 10:42
897 10:30 11:09 11:14 11:22
SIANGDari Depok Tujuan Jakarta Kota
No KA Depok MRI GDD JAKK
*501 10:44 11:21 11:28 11:40
505 11:00 11:37 11:44 11:56
*507 11:12 11:49 11:56 12:08
*509 11:19 11:56 12:03 12:15
*515 11:50 12:27 12:34 12:46
*519 12:07 12:46 12:53 13:05
*521 12:14 12:51 12:58 13:05
*527 12:43 13:20 13:27 13:39
529 12:55 13:32 13:39 13:51
537 13:24 14:01 15:08 14:20
*539 13:37 14:14 14:21 14:33
*541 13:51 14:28 14:35 14:47
545 14:18 14:55 15:03 15:14
551 14:42 15:19 15:23 15:38
555 15:01 15:38 15:45 15:57
573 16:41 17:18 17:25 17:37
*: Commuter Line berangkat dari Bogor

Dan berikut ini adalah jadual perjalanan saya dari Jakarta ke Depok di sore hari

SOREPemberangkatan Jakarta Kota Tujuan Bogor
No KA JAKK GDD MRI Depok
574 17:46 17:59 18:07 18:44
*576 17:57 18:10 18:17 18:53
578 18:02 18:15 18:22 18:59
580 18:14 18:27 18:34 19:11
*582 18:21 18:34 18:41 19:17
584 18:34 18:47 18:54 19:31
586 18:48 19:01 19:08 19:45
588 18:55 19:08 19:15 19:52
590 19:08 19:21 19:28 20:05
592 19:12 19:25 19:33 20:10
594 19:31 19:44 19:51 20:28
596 19:43 19:56 20:03 20:40
602 20:16 20:29 20:36 21:13
604 20:23 20:36 20:43 21:20
608 20:42 20:55 21:02 21:39
612 20:58 21:11 21:18 21:55
614 21:11 21:24 21:31 22:08
SOREPemberangkatan Tanah Abang Tujuan Bogor
No KA THB SUD MRI Depok
948 16:28 16:34 16:41 17:18
956 17:03 17:09 17:16 17:53
964 17:42 17:48 17:55 18:32
972 18:15 18:21 18:28 19:05
980 18:48 18:54 19:01 19:38
984 19:08 19:14 19:21 19:58
988 19:27 19:33 19:40 20:17
996 20:04 20:10 20:17 20:54
*: Commuter Line hanya sampai Depok
sony-bravia-40ex43b

Sony BRAVIA™ 40 EX43 LED

0

Biasanya jika kami jalan-jalan di Mall, saya selalu menyempatkan diri untuk masuk ke toko elektronik. Sepertinya gak bosan-bosan berkeliaran di tempat tersebut sambil bertanya tentang spesifikasi atau sekedar membanding-bandingkan harga dan tentu saja discount yang diberikan oleh setiap pemegang merek.

Sampai suatu waktu, anak-anak protes dengan keras, karena saya hanya lihat-lihat dowang dan gak pernah beli sesuatu dari toko elektronik.
Saya hanya tertawa saja saat itu dan mengajak mereka keluar.

Saat hendak keluar, saya sempat tertegun dengan sebuah televisi layar datar dan harga yang terpampang dibawahnya juga cukup murah. Setelah tanya-tanya, televisi merek Jepang berukuran 39 Inchi tersebut ternyata hanya mensupport HD 720p saja, pantas saja murah pikir saya.

Dia menawarkan televisi dari booth sebelahnya, masih merek Jepang. Memiliki ukuran 40 Inchi, Full HD 1080p dan berhadiah satu unit mini compo. Sebuah tawaran yang menarik untuk sebuah televisi layar datar. Saya mulai menimbang-nimbang untuk membeli unit yang ditawarkan ini.

Saat sedang berpikir, saya coba untuk mencari jenis yang sepandan. Saya coba untuk melihat booth Sony, dan mereka menawarkan type yang sepandan, yaitu Sony Bravia™ 40 EX-43 LED.

Kesan saya melihat jenis ini adalah tampilannya yang sederhana dan dengan pinggiran yang tipis membuat kesannya ringan (light). Memiliki 2 input HDMI, 1 Composite, 1 Component/Composite dan VGA serta sebuah USB port di sisi kanan layar selain tentu saja Antena port. Bagi saya ini sudah cukup karena saya menggunakan dua buah DTH Satellite, sebuah Multimedia Player dan sebuah PC.

Harga yang ditawarkan masih cukup reasonable tetapi tanpa diberikan bonus seperti merek lainnya, sayang sekali.

Installasi

Unit yang saya beli ternyata juga tidak terlalu berat, kurang dari 10 kilogram menurut saya bobotnya. Installasi untuk ditempatkan diatas meja juga mudah tanpa harus memasang baut atau sekrup, karena dudukannya (pedestal) dapat menjepit dengan aman unit televisi.
Pertama kali saya memasang output composite dari DTH ke input yang tersedia. Sayang sekali saya harus mengorbankan fungsi component input yang terintegrasi dengan composite input kedua. Tetapi sekali lagi, saya tidak memiliki perangkat dengan output component.
Berikutnya adalah memasang Media Player melalui koneksi HDMI. Dan tidak lebih dari 15 menit sejak membuka doos, saya sudah dapat menikmati siaran televisi dan menonton film di TV baru.

Fungsi menarik dari type ini adalah Foto Frame Mode, dimana saya dapat menikmati foto-foto yang berada di hardisk / USB-Stick yang langsung ditancapkan ke televisi. Memutar musik dari koleksi MP3 juga berjalan dengan baik, jika bosan dengan koleksi MP3, dapat juga mendengarkan siaran radio FM, karena unit ini telah dilengkapi dengan build-in FM Tunner.
Sony Bravia™ 40 EX-43 LED juga memiliki kemampuan untuk memutar film, sayangnya tidak mendukung semua format yang ada. Berikut ini adalah spesifikasi multimedianya.

Extention Container Video Codec Audio Codec
.avi AVI XvID, MPEG-1, MPEG-2 MP, H.264 BP/MP/HP, MPEG-4 SP/ASP PCM/MPEG-1 Layer-1, 2/MP3/AAC-LC, PS, SBR/Dolby Digital (2ch)/WMA v8
 .wmf, .asf  ASF WMV v9, XvID, MPEG-4 SP/ASP, VC-1 MP3/WMA v8
.mp4, .mov, .3gp MP4 H.264 BP/MP/HP, MPEG-4 SP/ASP, H.264, Motion JPEG MPEG-1 Layer-1, 2/MP3/AAC-LC, PS, SBR
.mkv  MKV H.264 BP/MP/HP, MPEG-4 SP/ASP, WMV v9, VC-1 PCM/MPEG-1 Layer-1, 2/MP3/AAC-LC, PS, SBR/Dolby Digital (2ch)/WMA v8
 .mpg, .mpeg PS MPEG-1, MPEG-2 MP MPEG-1 Layer-1, 2/MP3/Dolby Digital (2ch)
 .ts, .mts, .m2ts TS MPEG-2 MP, VC-1, H.264 BP/MP/HP MPEG-1 Layer-1, 2/MP3/AAC-LC, PS, SBR

Beberapa koleksi video file saya dengan format suara lebih dari dua channel tidak dapat dinikmati karena suaranya benar-benar tidak keluar.

Kebetulan ruang menonton televisi memiliki jendela yang cukup besar, type ini ternyata memiliki Anti Glare Screen Survace sehingga tayangan televisi atau movie dapat dinikmati tanpa harus menutup gordyn jendela. Saya rasa, ini adalah salah satu point terpenting saat memutuskan untuk membeli sebuah televisi.

Kekurangan

Dibalik semua kemampuan yang menurut saya sudah cukup mumpuni, Sony Bravia™ 40 EX-43 LED ternyata tidak memiliki kemampuan Sound System yang baik, bahkan menurut say suara yang dihasilkan cempreng dan biasa saja. Sepertinya mesti memiliki perangkat audio tambahan agar menjadi lebih baik.

Sony BRAVIA™ 40 EX43 LED

Sony BRAVIA™ 40 EX43 LED

Specification

Screen Size : 40 Inchi / 102 cm, 16:9
Color System : NTSC 3.58, NTSC 4.43, PAL, SECAM
Video Signal : 480/60i, 480/60p, 576/50i, 576/50p, 720/50p, 720/60p, 1080/50i, 1080/60i, 1080/24p (HDMI™ only), 1080/50p (HDMI™ / Component), 1080/60p (HDMI™ / Component)
Display Resolution : Full HD 1080p
Video Processing : BRAVIA Engine 3™ Technology
Backlight Module : Direct LED
24p True Cinema™ : Yes
Viewing Angle : 178° (Right/Left), 178° (Up/Down)
Picture Mode : Vivid / Standard / Custom/ Cinema / Photo / Sports / Game / Graphics
CineMotion/Film Mode/Cinema Drive : Yes
Bass Booster : Yes
Dolby® : Dolby® Digital
Surround Mode : Cinema/ Music/ Sports/ Game
Stereo System : NICAM/A2
HDMI™ / Audio In : 2 di belakang
USB 2.0 : Samping Kanan
Composite Video Input(s) : 2 (1 Hybrid w/Component) dibelakang
Component Video (Y/Pb/Pr) Input(s) : 1 (Hybrid w/Composite) dibelakang
RF Connection Input : 1 dibelakang
HD15 PC Input / Audio : 1 dibelakang
Analog Audio Input : 1 Hybrid w/PC dibelakang
Audio Out : 1 Hybrid w HP dibelakang
Headphone Out : 1 Hybrid w Audio out dibelakang
Power : AC 110-240V, 50/60Hz, 82 Watts
Infracom

Project Farewell

0

Dear Friends and Partners,

 
This letter is to thanks to all my friends and partners for any support and kind coordination to help me working for Infracom Groups. I would like to share to you all that today is my last day serving in Infracom Groups and I have to chase my other dreams.
I am delighted to tell all of you that I have enjoyed every moment working with all of you. Without all of your support I wouldn’t have been at this position. It’s been more than five years journey for me in this company as a startup.
Once again thank you all of you and will miss the time we spent together working in this organization. You all feel free to contact me at hedwigus@hedwigus.com
Thanking you all
Your truly,
Hedwigus Windarto DA

Go to Top